INSKANEWS 17/12/2025 -Di sebuah sudut Jakarta, aroma rempah yang hangat menyeruak dari dapur sederhana milik Husni. Kapulaga, cengkeh, dan lada hitam berpadu dalam nasi kebuli Abuya yang kini menjadi andalan usahanya. Bagi Husni, nasi kebuli bukan sekadar makanan—ia adalah cerita tentang hobi, cita rasa, dan perjalanan menuju keberkahan.
Tiga tahun lalu, Husni hanyalah seorang pecinta kuliner yang gemar berburu nasi kebuli di berbagai tempat. Dari satu kedai ke kedai lain, ia mencari rasa yang pas di lidah. Hingga akhirnya, ia menemukan nasi kebuli Abuya. “Rempahnya kuat, tapi tetap seimbang. Ada rasa Nusantara yang berpadu dengan Timur Tengah. Itu yang membuat saya jatuh hati,” kenangnya.
Keputusan bermitra dengan Abuya menjadi titik balik. Usaha Nasi Kebuli Abuya Husni Sukses Barokah pun lahir. Sejak awal, pelanggan merasakan perbedaan: nasi yang pulen, daging kambing yang empuk, dan aroma rempah yang menggoda. Tak heran, usaha ini cepat berkembang dan kini menjadi salah satu pilihan kuliner favorit di Jakarta.
Omzet usaha Husni berkisar Rp30 juta per bulan. Menjelang Ramadan, pesanan melonjak tajam. Nasi kebuli Abuya hadir di meja sahur keluarga, acara buka puasa bersama, hingga perayaan komunitas. “Ramadan selalu jadi momen paling sibuk, tapi juga paling indah. Karena nasi kebuli ini jadi bagian dari kebersamaan,” ujar Husni dengan senyum.
Tak puas hanya di satu lokasi, Husni merencanakan ekspansi ke Depok dan Jakarta. Ia juga menyiapkan inovasi menu, seperti nasi kebuli ayam dan variasi modern yang lebih ramah bagi generasi muda. Baginya, nasi kebuli bukan sekadar bisnis, melainkan warisan rasa yang harus terus hidup.
Kini, dari sebuah hobi sederhana, Husni berhasil menyalakan bara semangat kuliner. Nasi Kebuli Abuya Husni Sukses Barokah bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang perjalanan seorang pecinta kuliner yang menjadikan rempah sebagai jalan menuju keberkahan. (Yudi)

















