INSKA NEWS,Denpasar, Bali — Pasamuhan Agung Sabha Kerta Hindu Dharma Nusantara berlangsung lancar dan khidmat pada Selasa, 30 Desember 2025. Kegiatan ini digelar di Kantor Gubernur Bali dan menjadi momentum penting bagi umat Hindu dalam memperkuat kerukunan serta persatuan di Pulau Dewata.
Acara tersebut dihadiri sekitar 70 sulinggih (pendeta Hindu) se-Provinsi Bali serta diikuti oleh kurang lebih 300 peserta dari berbagai unsur masyarakat.
Pasamuhan Agung ini juga dihadiri Gubernur Bali I Wayan Koster, perwakilan TNI dan Polri, serta sejumlah pejabat pemerintah Provinsi Bali.
Melalui siaran persnya, DR HC Ida Pandita Empu Nabe—salah satu sulinggih yang turut hadir—menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai wadah musyawarah dan pembinaan spiritual umat Hindu, sekaligus memperkuat kerukunan antarumat beragama di Bali.
“Pasamuhan Agung ini merupakan ruang dialog suci bagi para sulinggih dan umat Hindu untuk menyatukan pemahaman tattwa, menjaga keharmonisan, serta memperkokoh nilai-nilai dharma dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Ida Pandita Empu Nabe kepada awak media.

Sejumlah narasumber turut mengisi kegiatan ini dengan pemaparan tattwa (ajaran filsafat Hindu). Di antaranya Ida RSI Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti yang menyampaikan materi tentang tattwa Ngerupuk, Tawur Nyepi, dan Ngembak Geni. Selain itu, tattwa Nganin Tika disampaikan oleh Ida Shri Begawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, serta pemaparan dari Ida Ratu Dang Dira Rajya SKHDN Pusat.
Pasamuhan Agung ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi, yang merupakan hari raya suci dan penting bagi umat Hindu di Indonesia. Nyepi dimaknai sebagai hari penyucian diri dan alam semesta, baik Bhuwana Alit (mikrokosmos) maupun Bhuwana Agung (makrokosmos).
Ida Pandita Empu Nabe juga menjelaskan bahwa rangkaian perayaan Nyepi diawali dengan upacara Melasti atau Mekiis ke laut, sumber mata air pegunungan, serta campuhan sungai yang disucikan. Selanjutnya dilaksanakan upacara Tawur sebagai simbol harmonisasi antara manusia, alam, dan Tuhan.
Puncak perayaan Hari Raya Nyepi ditandai dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian, yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Lelungan (tidak bepergian), Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang), dan Amati Karya (tidak bekerja), sebagai bentuk pengendalian diri dan perenungan spiritual.
(Sastra/Tim)

















