INSKANEWS, Jakarta, 17 April 2026 – Kehidupan keras sempat dijalani Fikri, bocah berusia 6 tahun yang harus memulung demi bertahan hidup. Kisahnya menjadi perhatian publik setelah video aktivitasnya di jalanan viral di media sosial. Peristiwa tersebut menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupnya, hingga akhirnya ia mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat.
Fikri merupakan anak kedua dari pasangan Sri dan M. Ulmi. Sejak usia dini, ia tidak merasakan masa kecil seperti anak-anak pada umumnya. Ketika anak seusianya bermain dan belajar, Fikri justru harus mengumpulkan barang bekas untuk dijual.
Kondisi keluarga yang tidak utuh turut memperberat kehidupannya. Orang tuanya telah berpisah, sehingga ia harus terpisah dari saudara-saudaranya. Fikri tinggal bersama adiknya, Noval (4), dan ayahnya di Jakarta. Sementara itu, saudara lainnya tinggal terpisah di daerah berbeda bersama kerabat masing-masing.
Situasi semakin sulit ketika sosok yang merawatnya harus berurusan dengan hukum. Dalam kondisi tersebut, Fikri terpaksa membantu neneknya dengan memulung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Momen inilah yang terekam dan kemudian menyebar luas di media sosial.
Respons masyarakat yang besar mendorong pihak berwenang untuk turun tangan. Fikri kemudian diantar kembali kepada ibunya di Sumedang. Namun, mengingat kondisi keluarga yang belum memadai serta usianya yang sudah memasuki masa sekolah, Fikri akhirnya diarahkan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
Pada 30 Maret 2026, Fikri resmi diterima di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 4 Sumedang. Di awal masa adaptasi, ia sempat mengalami kesulitan karena harus tinggal di lingkungan baru. Namun, dukungan dari para wali asuh, pengelola asrama, dan guru secara perlahan membantu Fikri menyesuaikan diri.
Perubahan pun mulai terlihat. Fikri yang sebelumnya cenderung murung kini tampak lebih ceria. Ia mulai aktif berinteraksi dengan teman-temannya dan menunjukkan keceriaan khas anak-anak seusianya.
“Sekolahnya seru, aku punya banyak teman. Semua baik,” ungkap Fikri dengan senyum.
Di Sekolah Rakyat, Fikri tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga perhatian dan kasih sayang. Ia merasakan suasana kekeluargaan yang selama ini jarang ia alami. Selain itu, kebutuhan dasarnya seperti makanan bergizi juga terpenuhi dengan baik.
Bagi Fikri, keberadaan Sekolah Rakyat menjadi lebih dari sekadar tempat belajar. Lingkungan tersebut memberinya kesempatan untuk tumbuh dengan layak, merasakan kebersamaan, serta membangun masa depan yang lebih baik.
Kisah Fikri menjadi gambaran nyata bahwa intervensi yang tepat dapat mengubah arah kehidupan anak-anak yang berada dalam kondisi rentan. Sekolah Rakyat pun terus berupaya menjangkau lebih banyak anak agar mereka memperoleh hak yang sama untuk hidup, belajar, dan berkembang secara optimal. _sumber: Kemensos RI_
(jhon)

















