INSKANEWS,Jakarta — Dunia kini dihadapkan pada ancaman krisis minyak baru setelah lebih dari 10% pasokan global terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.
Cadangan yang terus menipis serta terbatasnya sumber pasokan alternatif diperkirakan akan mendorong tekanan kenaikan harga energi dalam waktu dekat.
Sebelumnya, banyak pelaku pasar energi meyakini bahwa Iran tidak akan menutup Selat Hormuz—jalur sempit yang dilalui hampir seperlima distribusi minyak dunia. Langkah tersebut dinilai berisiko memicu konflik dengan negara-negara Teluk, mengganggu pasokan bagi pelanggan utama di Asia, sekaligus merugikan jalur ekonomi Iran sendiri.
Bahkan jika Iran sempat melakukan penutupan, para trader memperkirakan tindakan itu tidak akan berlangsung lama.
Namun, dua bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, serta dibalas dengan penargetan kapal-kapal komersial, aktivitas di Selat Hormuz justru hampir terhenti sepenuhnya.
Upaya diplomasi untuk memulihkan arus pengiriman minyak sejauh ini berjalan tidak konsisten dan belum menghasilkan kesepakatan berarti.
Meski peluang penyelesaian melalui negosiasi tetap terbuka, ada kemungkinan jalur tersebut akan tetap tertutup dalam waktu yang tidak dapat dipastikan.
Pergerakan harga minyak menunjukkan kekhawatiran yang tidak sebesar perkiraan awal. Meski sempat melonjak tajam dan kini berada di atas US$120 per barel, harga minyak mentah Brent masih jauh dari proyeksi sejumlah analis yang sebelumnya memperkirakan bisa mencapai US$150 hingga US$200 jika penutupan berlangsung lama.
Sejumlah wilayah di Asia mulai merasakan kekurangan pasokan atau berupaya mengantisipasinya. Namun, di banyak negara maju, dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masih relatif terbatas. Harga bahan bakar dan tiket penerbangan memang naik, tetapi proyeksi pertumbuhan ekonomi hanya mengalami sedikit penyesuaian.
Pasar saham bahkan tetap mendekati level tertinggi.
Terlepas dari berbagai prediksi yang beredar, ekonomi global tampaknya cukup tangguh dalam menghadapi salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah industri minyak.
Pada akhirnya, pasar cenderung akan menemukan titik keseimbangan baru —meski pada level harga yang belum pasti.
Optimisme sebagian pelaku pasar juga didukung oleh pengalaman tahun 2022, ketika negara-negara Barat menghentikan impor minyak dari Rusia pasca invasi ke Ukraina.Saat itu, harga minyak sempat menyentuh US$129 per barel tanpa memicu resesi global.Sumber : CNBC Indonesia.
(Rifa Hendri)

















