INSKANEWS, Bekasi – TPST Bantargebang kembali menjadi sorotan global. Tempat pembuangan sampah terbesar di Indonesia ini tercatat sebagai lokasi dengan “semburan” gas metana terbesar kedua di dunia.
Temuan ini berdasarkan laporan tim riset Emmett Institute on Climate Change and the Environment di University of California Los Angeles (UCLA), yang mengolah data dari Carbon Mapper. Data tersebut diperoleh melalui pemantauan satelit milik Planet Labs serta stasiun luar angkasa NASA.
Hasilnya, Bantargebang terdeteksi menghasilkan sekitar 6,3 metrik ton gas metana per jam pada 2025. Angka ini hanya kalah dari Campo de Mayo landfill di Argentina yang mencatatkan sekitar 7,6 metrik ton per jam.
Ancaman Serius dari Gas Metana
Gas metana yang dihasilkan berasal dari pembusukan sampah organik seperti sisa makanan dan limbah alami lainnya. Tingginya emisi ini menunjukkan dominasi sampah organik sekaligus menjadi indikator bahwa pengelolaan sampah belum optimal.
Selain berkontribusi besar terhadap pemanasan global, akumulasi gas metana juga berbahaya karena berpotensi memicu kebakaran hingga ledakan di area timbunan sampah.
Potensi Energi yang Belum Maksimal
Di balik ancaman tersebut, metana sebenarnya memiliki nilai ekonomi. Jika ditangkap dan dikelola dengan baik, gas ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk menghasilkan listrik, bahkan setara dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) skala besar.
Selain itu, sampah organik yang mendominasi juga berpotensi diolah menjadi kompos yang bernilai guna bagi sektor pertanian.
Perlu Perbaikan Sistem Pengelolaan
Besarnya emisi metana di Bantargebang menjadi sinyal kuat perlunya perbaikan sistem pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga pengolahan terpadu di lokasi pembuangan akhir.
Tanpa langkah konkret, pelepasan metana dalam jumlah besar akan terus memperparah krisis iklim yang tengah dihadapi dunia.***
Sumber: Katadata.co.id

















