INSKA NEWS, Jakarta——Film Keluarga Suami Adalah Hama diperkenalkan kepada publik melalui agenda press screening dan konferensi pers yang berlangsung hangat bersama para pemain serta kru film. Dalam kesempatan tersebut, para sineas membahas pesan emosional yang ingin disampaikan melalui cerita tentang kehidupan rumah tangga, tekanan ekonomi, hingga konflik keluarga yang kerap terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Film ini mencoba menghadirkan potret kehidupan yang dekat dengan realitas banyak orang, khususnya pasangan muda yang sedang berjuang mempertahankan keluarganya. Kamis, (14/5/2026) di XXI Plaza Indonesia.
Sutradara film menyampaikan bahwa kehidupan manusia sejatinya merupakan anugerah yang indah. Namun, di balik itu, banyak orang menyimpan rasa lelah, kecewa, hingga kehilangan kebahagiaan yang tidak pernah benar-benar diungkapkan. Ia mengatakan, “Rasa lelah itu valid, rasa sakit itu nyata. Tidak apa-apa untuk bercerita dan menangis.” Menurutnya, konflik yang terjadi di meja makan maupun ruang tamu bukanlah kegagalan pribadi, melainkan proses yang harus dilalui bersama untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik.
Film ini juga menyoroti fenomena generasi “sandwich” yang menjadi penopang ekonomi keluarga di Indonesia. Beban memenuhi kebutuhan orang tua, pasangan, hingga saudara sering kali membuat seseorang berada di titik terendah dalam hidupnya. Melalui cerita Intan dan Damar, penonton diajak melihat bagaimana tekanan keluarga dapat memengaruhi hubungan suami istri jika tidak dibangun dengan komunikasi yang sehat dan rasa saling memahami.
Salah satu pemain menyebutkan bahwa film tersebut lahir dari pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan nyata. Ia mengaku telah menjalani pernikahan selama puluhan tahun dan memahami bahwa banyak persoalan rumah tangga sebenarnya dialami hampir semua pasangan, tetapi jarang dibicarakan secara terbuka. “Kami ingin mengajak orang-orang untuk berdiskusi dan sadar bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masalah keluarga,” ujarnya.
Konflik utama dalam film berpusat pada pilihan sulit antara bakti kepada orang tua dan tanggung jawab terhadap pasangan. Menurut sang pemeran utama, bagian paling penting dari cerita adalah ketika seseorang berada di persimpangan hidup dan harus menentukan keputusan yang tepat. Ia menjelaskan bahwa pilihan yang salah dapat memicu kekacauan dalam rumah tangga. Karena itu, film ini ingin memperlihatkan pentingnya kebijaksanaan dalam mengambil keputusan keluarga.
Sementara itu, aktris yang memerankan karakter Intan menegaskan bahwa film ini bukan dibuat untuk menakut-nakuti orang yang belum menikah ataupun membangun stigma buruk terhadap mertua. Ia mengatakan, “Film ini justru ingin menunjukkan bahwa suami dan istri harus berjuang bersama menghadapi masalah.” Menurutnya, komunikasi menjadi kunci utama agar pasangan mampu melewati tekanan ekonomi, konflik keluarga, maupun perasaan terabaikan di dalam rumah tangga.
Karakter Bella dan Danan dalam film juga menjadi sorotan karena dinilai merepresentasikan sosok yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pemeran Bella mengungkapkan bahwa dirinya berusaha memainkan karakter yang menyebalkan tanpa terlihat jahat. Ia menyebut Bella hanyalah sosok yang kurang peka terhadap kondisi orang lain.
Hal senada disampaikan pemeran Danan yang menilai karakternya bukan pribadi buruk, melainkan terbiasa mengutamakan dirinya sendiri karena pola asuh keluarga sejak kecil.
Melalui Keluarga Suami Adalah Hama, para pembuat film berharap masyarakat lebih terbuka membicarakan persoalan rumah tangga tanpa rasa malu. Film ini juga mengajak penonton untuk berhenti menuntut kesempurnaan dari diri sendiri maupun pasangan. Pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya empati, komunikasi, dan perjuangan bersama demi mempertahankan keluarga di tengah kehidupan yang penuh tekanan dan keterbatasan. (***)
(Rizki)

















