INSKANEWS., Jakarta, 29 Agustus 2026 – Sebelum resmi tayang di bioskop Indonesia, film horor “Lobang Buaya” karya sutradara Hanung Bramantyo telah lebih dahulu membawa kisahnya ke panggung festival film internasional.
Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Film tersebut mendapat kesempatan diputar dalam sejumlah festival film di luar negeri, di antaranya International Film Festival Rotterdam di Belanda dan Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) di Korea Selatan.
Kabar tersebut disampaikan dalam konferensi pers peluncuran official trailer dan final poster “Lobang Buaya” di Cinema XXI Senayan City, Jakarta, 28 Agustus 2026.
Kehadiran film di festival internasional menjadi bagian dari perjalanan “Lobang Buaya” sebelum akhirnya dijadwalkan menyapa penonton Indonesia melalui pemutaran serentak di bioskop mulai 1 Oktober 2026.
Pihak produser menjelaskan, keikutsertaan dalam festival juga menjadi strategi untuk memperkenalkan “Lobang Buaya” kepada pasar internasional. Film tersebut memang sejak awal dipasarkan tidak hanya untuk penonton Indonesia, tetapi juga untuk pasar luar negeri.
“Lobang Buaya” melibatkan sejumlah mitra internasional, di antaranya Catchplay, Screenworks, Koko Entertainment, ISTNA, dan Jerry Goode.
Menurut pihak produksi, respons dari festival internasional tersebut membuka peluang lebih luas bagi film untuk dipasarkan dan ditayangkan di berbagai negara.
“Memang film ‘Lobang Buaya’ ini kita pasarkan juga ke luar negeri. Jadi, kita punya investor internasional juga,” ujar produser dalam konferensi pers.
Pertama Diputar di Rotterdam
International Film Festival Rotterdam menjadi salah satu festival internasional yang lebih dahulu memberikan ruang bagi “Lobang Buaya”.
Kesempatan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi para pemain dan pembuat film. Anya Zen, salah satu pemeran, mengaku bangga dapat membawa film yang memiliki cerita sangat Indonesia kepada penonton internasional.
Menurut Anya, tantangan sekaligus pengalaman menariknya adalah ketika cerita yang sangat berangkat dari konteks Indonesia ternyata tetap dapat dinikmati penonton dari negara lain.
“Ini tidak cuma film dari Indonesia, tapi juga cerita yang sangat Indonesia,” ujar Anya.
Ia menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sebuah cerita lokal tetap memiliki kemungkinan untuk berkomunikasi dengan penonton internasional melalui bahasa sinema.
Berlanjut ke BIFAN
Setelah Rotterdam, “Lobang Buaya” kembali mendapat kesempatan tampil di festival film internasional melalui Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) di Korea Selatan.
Berbeda dengan Rotterdam, BIFAN dikenal sebagai festival yang memberikan perhatian khusus terhadap film-film bergenre, termasuk horor, fantasi, thriller, dan aksi.
Hanung Bramantyo mengaku tidak menyangka “Lobang Buaya” mendapat perhatian dari festival tersebut.
Ia mengatakan, pihak festival tertarik karena film menawarkan perspektif berbeda dalam mengolah cerita sejarah dan horor.
Keikutsertaan di BIFAN bahkan turut memengaruhi jadwal penayangan “Lobang Buaya” di Indonesia. Film yang sebelumnya direncanakan tayang setelah festival Rotterdam akhirnya menyesuaikan jadwal karena adanya kesempatan tampil di BIFAN.
Horor dengan Cerita Indonesia
“Lobang Buaya” mengambil latar Indonesia pada 1964, setahun sebelum peristiwa kelam 1965. Cerita berpusat pada teror pembunuhan berantai yang terjadi di Desa Lobang Buaya.
Para tokoh desa ditemukan tewas mengenaskan dengan punggung berlubang. Rumor mengenai “Hantu Bolong” kemudian berkembang di tengah masyarakat.
Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra ditugaskan untuk menyelidiki pembunuhan tersebut dan mencari tahu siapa dalang di balik rangkaian teror.
Hanung menegaskan film tersebut bukan film mengenai peristiwa 30 September 1965 maupun remake film G30S/PKI. Ia memilih latar satu tahun sebelumnya untuk membangun cerita fiksi yang berkaitan dengan konflik sosial masyarakat desa.
Pendekatan horor digunakan Hanung untuk mengangkat rasa takut yang menurutnya tidak hanya berasal dari keberadaan makhluk gaib, tetapi juga dari ketidakadilan, kekuasaan, korupsi, serta penindasan manusia terhadap manusia lainnya.
“Horor itu adalah teror. Teror yang tidak terjawab,” kata Hanung.
Membuka Peluang Pasar Internasional
Perjalanan “Lobang Buaya” di Rotterdam dan BIFAN menjadi modal penting sebelum film tersebut memasuki pasar bioskop Indonesia.
Pihak produksi menyebut keikutsertaan di festival bukan sekadar pencapaian artistik, tetapi juga bagian dari upaya memperluas distribusi film ke pasar internasional.
Sejumlah negara disebut telah menunjukkan minat terhadap film tersebut. Namun, pihak produksi belum mengungkapkan secara rinci negara-negara yang akan menayangkan “Lobang Buaya”.
Bagi para pemain, pengalaman mengikuti festival internasional juga memberikan kebanggaan tersendiri karena mereka dapat menyaksikan langsung respons penonton terhadap film yang mengangkat cerita dan latar budaya Indonesia.
“Lobang Buaya” dibintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, serta Mathias Muchus.
Setelah melewati perjalanan festival di luar negeri, film tersebut akhirnya akan bertemu dengan penonton Indonesia. “Lobang Buaya” dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026.
wartawan : Ryennaldy ,Editor : kus








