INSKANEWS, Jakarta, 8 Oktober 2026 — Film horor Aplikasi Iblis menghadirkan perpaduan horor, aksi, misteri, romansa, dan drama dengan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan jump scare. Film produksi NIH Pictures ini menjadikan konsekuensi pilihan dan obsesi manusia sebagai sumber teror yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Film yang disutradarai Dimas Anggara tersebut menggelar gala premiere di Studio 3 XXI Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (8/10/2026). Aplikasi Iblis dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026.
Dimas Anggara mengatakan, tantangan terbesar dalam menggarap film keduanya sebagai sutradara adalah menjaga keseimbangan antara unsur horor, aksi, dan drama agar ritme cerita tetap terjaga.
“Jangan sampai pada saat nonton habis tegang aksi, tegang horor, habis sebentar kita lambat lagi, pace-nya kelamaan,” ujar Dimas dalam konferensi pers gala premiere.
Menurut Dimas, ia berusaha menjaga grafik emosi penonton agar ketegangan yang dibangun tidak berubah menjadi kejenuhan.
“Jangan sampai orang nonton, entar ada momen bosan, mengantuk, ingin tidur,” katanya.
Dimas juga mengaku memiliki tingkat toleransi yang rendah terhadap cerita tentang setan. Kondisi tersebut justru menjadi tantangan tersendiri ketika ia harus menentukan kadar ketakutan yang akan ditampilkan dalam film.
“Buat saya kayak, ‘Eh, sudah enggak asyik nih.’ Maksudnya, kayak pas bikin tadi, buat saya sudah seram,” ujarnya.
Horor Berasal dari Sebab dan Akibat
Dimas menjelaskan, unsur horor dalam Aplikasi Iblis dibangun berdasarkan hubungan sebab-akibat dari tindakan tokoh utama, Arya, yang diperankan Junior Roberts.
“Horornya ini enggak banyak. Itu juga enggak seram-seram banget horornya. Kita hanya mencoba memberikan horornya itu karena akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh Arya,” kata Dimas.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat teror dalam film terasa lebih logis sekaligus berkaitan langsung dengan perjalanan karakter.
“Apa yang dilakukan oleh Arya itu menyebabkan dia mendapatkan teror horornya. Jadi, kita hanya memlogikakan saja sebab-akibatnya,” tuturnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep cerita yang ditulis Tisa TS. Penulis yang akrab disapa Mami Tisa itu mengatakan, Aplikasi Iblis tidak sekadar menampilkan hantu sebagai sosok yang bertugas menakut-nakuti penonton.
Tisa bahkan secara khusus merancang karakter hantu dalam film agar memiliki latar belakang, motivasi, dan tujuan yang dapat dipahami penonton.
“Supaya hantu ini juga bikin orang merasa empati, merasa sayang. Jadi, dia hantu, tapi lovable,” ujar Tisa.
Menurutnya, penonton sejak awal diberikan gambaran mengenai latar belakang sang hantu, termasuk alasan dirinya menjadi hantu dan mengapa melakukan tindakan tertentu.
“Film Aplikasi Iblis ini kalau dibilang bukan sekadar film horor, tapi sebenarnya yang paling horor itu kan bukan jump scare,” katanya.
Tisa menyebut realitas kehidupan sehari-hari justru dapat menjadi sumber ketakutan yang lebih dekat dengan penonton. Kehilangan pasangan, pengkhianatan, hingga rasa cinta yang berlebihan menjadi bagian dari konflik yang coba diangkat.
“Pada saat menonton, kita bisa menempatkan diri, ‘Eh, gua bisa jadi Arya lho, gua bisa jadi Laras lho,’” ujarnya.
Cinta dan Dendam Bisa Berujung Bahaya
Produser R. Dimas Ariyanto menambahkan, Aplikasi Iblis sengaja menempatkan teror bukan hanya di lokasi yang identik dengan film horor.
Menurutnya, suasana mencekam bisa hadir di tempat yang justru akrab dengan keseharian masyarakat, seperti kantor, rumah, maupun jalan yang setiap hari dilalui.
“Kita ingin membuat suatu film yang berbeda dan juga yang lebih relevan. Bahwa horor itu tidak hanya terjadi di hutan-hutan, keadaan yang mencekam tidak hanya terjadi di kuburan, tapi bisa juga terjadi di tempat-tempat yang sangat dekat dengan kita,” ujar Dimas Ariyanto.
Film ini juga membawa sejumlah tema, mulai dari cinta, dendam, kasih sayang, hingga obsesi terhadap seseorang.
Dimas Ariyanto mengingatkan bahwa perasaan yang berlebihan, jika tidak disertai logika dan akal sehat, dapat membawa konsekuensi berbahaya.
“Obsesi, kecintaan kita kepada seseorang itu kalau tidak dilandasi dengan logika, tidak dilandasi dengan akal pikiran yang sehat, itu akan berimbas bahaya,” katanya.
Hal serupa berlaku terhadap dendam yang berlebihan. Menurutnya, cinta, kasih sayang, maupun dendam dapat menjadi sumber masalah ketika tidak dikendalikan.
“Jangan sampai terlalu berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan itu pasti ada akibatnya,” ujarnya.
Junior Roberts Jalani Banyak Adegan Aksi
Sebagai Arya, Junior Roberts harus menjalani sejumlah adegan aksi dan perkelahian. Ia mengaku mendapatkan waktu persiapan melalui latihan koreografi dan lokakarya sebelum proses syuting.
“Kalau misalkan aksinya sih memang lumayan banyak di film ini. Tapi untungnya kita ada waktu yang lumayan panjang juga untuk persiapan,” kata Junior.
Untuk menjaga stamina selama syuting, Junior mengandalkan kopi. Ia bahkan mengaku dapat mengonsumsi empat hingga lima gelas kopi ketika menjalani proses produksi.
Adegan aksi juga membuat Junior mengalami memar. Namun, ia menganggap hal tersebut sebagai konsekuensi yang wajar dalam menjalani adegan fisik.
Pengalaman Junior dalam film tersebut juga menjadi pembelajaran bagi Dimas Anggara. Sebagai sutradara, Dimas mengaku banyak belajar dari para pemain dan kru, termasuk memahami stamina pemain ketika menjalani adegan secara berulang.
Daffa Bawa Pengalaman sebagai Atlet Bela Diri
Adegan perkelahian juga melibatkan Daffa Alharits. Sebelum terjun ke dunia film, Daffa merupakan atlet bela diri. Ia pernah menekuni pencak silat dan kemudian beralih ke wushu.
Pengalaman tersebut menjadi modal ketika ia harus berhadapan langsung dengan Junior Roberts dalam sejumlah adegan aksi.
Daffa mengakui, latar belakangnya sebagai atlet sempat membuatnya harus belajar mengontrol tenaga ketika melakukan koreografi perkelahian untuk kebutuhan kamera.
“Kalau di atlet itu kan biasanya kita memukulnya benar-benar. Kesulitan saya itu untuk mengontrol emosi dan tenaga,” ujarnya.
Ia mengatakan sempat dua kali terkena pukulan ketika menjalani adegan aksi bersama Junior.
Koreografi adegan perkelahian tersebut juga mendapat arahan dari Deswin sebagai pengarah koreografi. Sementara itu, Dimas Anggara lebih banyak memberikan arahan dari sisi akting.
Dosma Eksplorasi Suara Hantu Laras
Dosma Hazenbosch menghadirkan karakter Laras dengan perubahan penampilan dan karakter vokal ketika menjadi sosok hantu.
Untuk mendapatkan suara yang sesuai, Dosma melakukan sejumlah eksperimen bersama Ruth Marini. Mereka mencoba berbagai karakter suara, mulai dari suara biasa hingga suara yang lebih rendah, pelan, dan berat.
Dosma mengatakan, proses tersebut dilakukan untuk menemukan suara yang paling sesuai dengan karakter hantu Laras.
“Awalnya pertama nyari-nyari dulu sama Kak Rut, kayak yang mana nih yang cocok suaranya,” kata Dosma.
Eksplorasi tersebut kemudian menghasilkan karakter suara yang berbeda dari suara Dosma dalam kesehariannya.
Aulia Deas Jalani Adegan dengan Sling
Aulia Deas yang berperan sebagai Mia juga menghadapi tantangan fisik dalam film horor pertamanya.
Ia menjalani adegan ketakutan, berteriak, didorong, hingga menggunakan sling. Menurut Aulia, penggunaan sling membutuhkan lokakarya agar gerak tubuh tetap terlihat meyakinkan ketika kamera merekam adegan tersebut.
“Pertama kalinya aku dapat treatment sling. Jadi, ternyata kalau kita dapat treatment sling itu tetap ada workshop-nya juga,” ujar Aulia.
Ia menyebut pengalaman tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar sekaligus kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan aktingnya.
Aldo Irawan Putra Simpan Rahasia Bayu
Sementara itu, Aldo Irawan Putra memerankan Bayu, karakter yang memiliki misi rahasia dalam cerita.
Aldo mengatakan, perubahan perjalanan karakter Bayu menjadi tantangan tersendiri karena berhubungan dengan plot twist film.
Dalam mempersiapkan karakter tersebut, ia mendapat arahan dari Dimas Anggara serta Ruth Marini sebagai pelatih akting.
Aldo juga mengaku terus membaca naskah dan catatan karakter untuk menjaga emosi serta identitas Bayu selama berada di depan kamera.
Valdes Valeras Bawa Karakter Slamet
Pemeran Slamet, Valdes Valeras, menjadi salah satu wajah baru dalam jajaran pemain Aplikasi Iblis. Aktor asal Maluku itu mengaku sempat merasa kurang percaya diri ketika harus beradu akting dengan para pemain yang lebih berpengalaman.
Namun, ia berusaha membangun kepercayaan diri hingga akhirnya mendapatkan kesempatan bermain dalam film tersebut.
Valdes juga memiliki kesempatan menampilkan kemampuan bernyanyinya. Lagu yang terdengar dalam film merupakan lagu miliknya sendiri.
Dalam kesempatan tersebut, Valdes menyampaikan pesan kepada masyarakat Maluku agar tidak meragukan diri sendiri.
“Jangan pernah kita meragukan keberanian kita, karena dengan kulit kita seperti ini, wajah kita atau keunikan kita seperti ini, itu juga menjadi kekuatan untuk kita semua,” katanya.
Dengan memadukan horor, aksi, misteri, romansa, drama, dan humor, Aplikasi Iblis mencoba menawarkan teror yang tidak berhenti pada kemunculan makhluk gaib.
Film produksi NIH Pictures tersebut mengajak penonton melihat bagaimana cinta, kehilangan, obsesi, dan dendam dapat menjadi sumber persoalan ketika manusia kehilangan kendali.
Aplikasi Iblis tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026.
—
Ryennaldy








