ADF Season 2 Jadi Garda Depan Pelestarian Menarik Perhatian Dengan Nada Peringatan

INSKA NEWS

INSKA NEWS-Kota Bekasi — AsMEN Discussion Forum (ADF) kembali digelar memasuki Season 2 pada Jumat (6/2/2026.

Forum diskusi ini mengangkat tema “Urgensi Pelestarian Lingkungan, Menjawab Tantangan Bencana Ekologis” sebagai respons atas meningkatnya krisis lingkungan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Isu lingkungan bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang kita hadapi sehari-hari.Banjir, longsor, polusi udara, dan berbagai bencana ekologis lainnya menjadi bukti nyata bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja.

Oleh karena itu, ADF Season 2 hadir sebagai wadah untuk bertukar pikiran, mencari solusi, dan meningkatkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Diskusi ini diharapkan dapat menghasilkan gagasan-gagasan inovatif yang dapat diimplementasikan secara nyata untuk mengatasi krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.

Kegiatan tersebut berlangsung di Studio AsMEN, Jalan Puncak Cikunir No. 14, Kelurahan Jakasampurna, Kota Bekasi.

Diskusi ini bertujuan membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam, terutama di tengah maraknya bencana ekologis akibat kerusakan lingkungan yang terjadi secara masif.

Pemilihan lokasi di Studio AsMEN diharapkan dapat menciptakan suasana yang lebih santai dan akrab, sehingga peserta dapat lebih leluasa menyampaikan pendapat dan berdiskusi secara terbuka.

Selain itu, lokasi ini juga diharapkan dapat menarik perhatian masyarakat sekitar untuk ikut serta dalam diskusi dan menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Dengan semakin banyak orang yang peduli dan terlibat, diharapkan upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

ADF Season 2 menghadirkan dua narasumber dari kalangan akademisi dan pemerhati sosial, yakni Adhie Pamungkas serta pakar jurnalistik dan pemerhati sosial Sastra Suganda; jalannya diskusi dipandu oleh wartawan senior M. Hatta Tahir, dengan peserta dari berbagai latar belakang yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan.

Kehadiran narasumber yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam dan perspektif yang beragam tentang isu lingkungan.

Adhie Pamungkas, dengan latar belakang akademisnya, akan memberikan analisis ilmiah dan data-data yang relevan untuk memperkuat argumen tentang urgensi pelestarian lingkungan.

Sementara itu, Sastra Suganda, dengan pengalamannya sebagai jurnalis dan pemerhati sosial, akan memberikan pandangan yang lebih praktis dan aplikatif tentang bagaimana isu lingkungan dapat dikomunikasikan kepada masyarakat luas.

Dalam pemaparannya, Adhie Pamungkas menekankan pentingnya meluruskan istilah yang selama ini keliru dipahami masyarakat terkait bencana alam.

Ia menilai bahwa banyak peristiwa yang disebut sebagai bencana alam sejatinya merupakan akibat dari perilaku manusia yang merusak lingkungan.

Perspektif ini mengajak kita untuk lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan menyadari bahwa setiap tindakan kita memiliki konsekuensi terhadap alam.

Adhie Pamungkas juga mengajak peserta diskusi untuk tidak hanya menyalahkan alam atas bencana yang terjadi, tetapi juga melihat ke dalam diri sendiri dan mencari tahu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah bencana serupa terjadi di masa depan.

Dengan mengubah perilaku dan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, kita dapat mengurangi risiko bencana dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

“Alam tidak pernah memberi bencana kepada manusia. Yang terjadi adalah bencana ekologis karena ulah manusia sendiri,” ujar Adhie.

Pernyataan ini menjadi pengingat yang kuat bahwa kita adalah bagian dari alam, dan kita memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Jika kita terus merusak alam, maka kita juga akan merasakan akibatnya.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengubah paradigma berpikir dan mulai bertindak secara proaktif untuk melestarikan lingkungan.

Dengan kesadaran dan tindakan yang nyata, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Adhie juga mengutip pernyataan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres pada Juli 2023 yang menyatakan bahwa dunia telah memasuki era global boiling.

Pernyataan tersebut, menurutnya, menjadi penanda bahwa krisis iklim telah berada pada level yang semakin ekstrem, ditandai dengan rekor suhu tertinggi dalam sejarah.

Hal ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim sudah semakin terasa dan mengancam kehidupan manusia di seluruh dunia.

Kita tidak bisa lagi mengabaikan peringatan ini dan harus segera mengambil tindakan nyata untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan beradaptasi dengan perubahan iklim yang sudah terjadi. Jika tidak, kita akan menghadapi konsekuensi yang lebih buruk di masa depan.

Sebagai langkah solusi, Adhie menyinggung konsep ekoteologi yang dikembangkan oleh Kementerian Agama.

Ia menjelaskan bahwa konsep tersebut mendorong para pemuka agama untuk menyampaikan ajaran dan nilai-nilai keagamaan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual umat.

Ekoteologi menjadi jembatan antara agama dan lingkungan, mengajak umat beragama untuk lebih peduli terhadap alam dan menjaganya sebagai amanah dari Tuhan.

Dengan mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam upaya pelestarian lingkungan, diharapkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dapat meningkat secara signifikan.

Agama memiliki peran penting dalam membentuk perilaku dan nilai-nilai masyarakat, sehingga dapat menjadi kekuatan pendorong untuk menciptakan perubahan yang positif bagi lingkungan.

Sementara itu, Sastra Suganda menyoroti kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto yang pada 3 Februari 2026 mengumpulkan para kepala daerah bersama TNI dan Polri untuk membahas pengelolaan kekayaan alam dan upaya mewujudkan swasembada pangan.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk dikelola secara berkelanjutan. Kebijakan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk kepala daerah, TNI, dan Polri, diharapkan pengelolaan sumber daya alam dapat dilakukan secara terpadu dan efektif.

Selain itu, upaya mewujudkan swasembada pangan juga menjadi prioritas untuk memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Indonesia ini sangat kaya, salah satunya dari sektor kelapa sawit yang dibutuhkan dunia. Jika dikelola dengan baik, Indonesia bisa semakin sejahtera, gemah ripah loh jinawi,” ungkap Sastra.

Potensi kelapa sawit sebagai komoditas ekspor yang bernilai tinggi dapat meningkatkan pendapatan negara dan kesejahteraan masyarakat.

Namun, pengelolaan kelapa sawit juga harus dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan, dengan memperhatikan dampak lingkungan dan sosial.

Dengan praktik pengelolaan yang baik, kelapa sawit dapat menjadi sumber kemakmuran tanpa merusak lingkungan.

Ia menambahkan bahwa wilayah Sumatra dan Kalimantan memiliki peluang besar dalam pengembangan kelapa sawit yang berkelanjutan, dengan mengombinasikannya bersama tanaman buah dan pepohonan keras agar keseimbangan ekologi tetap terjaga.

Diversifikasi tanaman dalam perkebunan kelapa sawit dapat meningkatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi risiko kerusakan lingkungan.

Dengan menanam tanaman buah dan pepohonan keras di sekitar perkebunan kelapa sawit, dapat tercipta ekosistem yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Selain itu, diversifikasi tanaman juga dapat memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi petani.

Di sektor pangan, Sastra menyebut Indonesia masih berada dalam kondisi surplus hingga delapan bulan ke depan meski dihadapkan pada berbagai tantangan bencana.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ketahanan pangan yang cukup baik dalam menghadapi berbagai tantangan.

Namun, kita tidak boleh terlena dan harus terus berupaya meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan. Dengan teknologi pertanian yang modern dan pengelolaan sumber daya yang efisien, kita dapat memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia di masa depan.

Diskusi ini menegaskan bahwa kesadaran ekologis merupakan kebutuhan mendesak demi keberlanjutan bangsa dan generasi mendatang.

(Suyono)

Also Read

Tags