Oleh : Ust. Ikhwanudin Nahrowi, S.Pd.I (Mahasiswa Pascasarjana S2 Pendidikan Agama Islam (PAI) UNISMA Bekasi
INSKA NEWS – Keindahan Alam Sebelum Bencana, Sumatera dikenal sebagai salah satu pulau dengan panorama alam yang memukau. Pegunungan Bukit Barisan yang membentang dari Aceh hingga Lampung menghadirkan pemandangan hijau nan asri. Hutan tropis yang lebat, sungai berliku, serta sawah bertingkat menjadi daya tarik wisata dan sumber kehidupan masyarakat. Di Sumatera Barat, lembah dan perbukitan yang subur menjadi tempat tumbuhnya tanaman pangan. Aceh dengan hutan Leuser yang kaya keanekaragaman hayati, serta Sumatera Utara dengan Danau Toba yang mendunia, semuanya adalah bukti keindahan ciptaan Tuhan.
Namun, di balik keelokan itu, tersimpan ancaman yang sering kali diabaikan. Kerusakan alam akibat ulah tangan manusia perlahan mengikis keseimbangan ekosistem. Penebangan hutan tanpa kendali, alih fungsi lahan, serta pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan menjadi bom waktu yang akhirnya meledak dalam bentuk bencana.
Bencana Longsor Melanda
Dalam beberapa pekan terakhir, longsor terjadi di berbagai wilayah Sumatera: Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara. Hujan deras yang mengguyur kawasan pegunungan memicu pergerakan tanah. Lereng yang gundul akibat deforestasi tidak lagi mampu menahan derasnya air hujan. Akibatnya, tanah longsor menimpa pemukiman warga, jalan raya, hingga lahan pertanian.
Di Sumatera Barat, longsor melanda Kabupaten Agam dan Tanah Datar. Puluhan rumah tertimbun material tanah dan bebatuan. Jalan penghubung antar desa terputus, membuat akses bantuan terhambat. Di Aceh, longsor terjadi di wilayah Gayo Lues dan Aceh Tengah. Beberapa sekolah rusak, dan anak-anak terpaksa belajar di tenda darurat. Sementara di Sumatera Utara, longsor di kawasan Tapanuli Utara menutup jalur utama menuju Danau Toba, mengganggu aktivitas ekonomi dan pariwisata.
Korban dan Dampak
Musibah ini menelan korban jiwa. Data sementara menunjukkan puluhan orang meninggal dunia, ratusan luka-luka, dan ribuan mengungsi. Anak-anak kehilangan tempat tinggal, orang tua kehilangan mata pencaharian, dan banyak keluarga harus berpisah karena evakuasi.
Selain korban manusia, dampak ekonomi juga sangat besar. Sawah dan ladang yang tertimbun tanah membuat petani kehilangan hasil panen. Infrastruktur rusak, jalan dan jembatan putus, menghambat distribusi barang dan logistik. Sektor pariwisata pun terpukul. Wisatawan membatalkan perjalanan karena akses tertutup dan rasa takut akan bencana susulan.
Lingkungan pun semakin terancam. Longsor membawa material lumpur ke sungai, menyebabkan sedimentasi dan banjir di hilir. Hutan yang sudah rusak semakin kehilangan daya dukungnya. Semua ini menjadi lingkaran setan yang sulit diputus jika tidak ada kesadaran kolektif untuk menjaga alam.
Ulah Tangan Manusia
Bencana ini bukan semata-mata karena hujan deras. Faktor utama adalah kerusakan alam akibat ulah manusia. Penebangan hutan liar, tambang ilegal, serta pembangunan tanpa kajian lingkungan memperparah kondisi. Lereng yang seharusnya ditumbuhi pepohonan kini gundul, sehingga tidak ada akar yang menahan tanah.
Ironisnya, keuntungan jangka pendek dari eksploitasi alam justru berbuah kerugian besar bagi masyarakat luas. Segelintir orang menikmati hasil tambang atau kayu, sementara ribuan orang harus menanggung derita akibat longsor.
Pelajaran dari Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an, Allah telah mengingatkan manusia agar tidak merusak bumi setelah diciptakan dengan penuh keseimbangan. Firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini menjadi cermin bagi kita semua. Bencana longsor yang terjadi adalah peringatan nyata bahwa kerusakan alam akibat ulah manusia akan kembali kepada manusia itu sendiri. Jika kita tidak menjaga bumi, maka bumi akan “memberontak” melalui bencana.
Selain itu, dalam Surah Al-A’raf ayat 56 Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat ini menegaskan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah. Menanam pohon, melestarikan hutan, serta mengelola sumber daya alam dengan bijak adalah bentuk kebaikan yang mendatangkan rahmat Allah.
Harapan dan Jalan Keluar
Musibah longsor di Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara harus menjadi momentum refleksi. Pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap aktivitas penebangan hutan dan tambang ilegal. Reboisasi harus digalakkan, dan masyarakat perlu dilibatkan dalam menjaga lingkungan.
Selain itu, pembangunan harus berorientasi pada keberlanjutan. Setiap proyek harus melalui kajian lingkungan yang ketat. Pendidikan lingkungan juga penting agar generasi muda memahami bahwa alam bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga sumber kehidupan.
Di sisi lain, solidaritas masyarakat Indonesia patut diapresiasi. Bantuan mengalir dari berbagai daerah, relawan turun tangan, dan doa dipanjatkan untuk para korban. Semangat gotong royong ini adalah kekuatan bangsa yang harus terus dijaga.
Penutup
Keindahan alam Sumatera yang dulu mempesona kini ternoda oleh bencana longsor. Musibah ini mengingatkan kita bahwa alam harus dijaga, bukan dieksploitasi. Korban yang berjatuhan adalah bukti nyata bahwa kerusakan alam membawa derita bagi manusia.
Al-Qur’an telah memberi peringatan agar kita tidak merusak bumi. Bencana longsor adalah panggilan untuk kembali kepada jalan yang benar: menjaga alam sebagai amanah dari Allah. Semoga tragedi ini menjadi pelajaran berharga, agar keindahan Sumatera kembali terjaga, dan masyarakat dapat hidup damai berdampingan dengan alam.
Bekasi, 22 Desember 2025

















