Ghost in the Call Angkat Satir Sosial Indonesia

INSKA NEWS

INSA NEWS, Jakarta —- Press conference dan press screening film produksi Rapi Film, Legacy Pictures, serta Amar Bank digelar di Epicentrum XXI. Pada Kamis, 9 April 2026. Acara ini dihadiri para sineas, pemain, serta awak media yang ingin mengetahui lebih jauh proses kreatif film terbaru karya Joko Anwar.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi tim produksi untuk memperkenalkan film yang mengusung pendekatan satir terhadap kondisi sosial di Indonesia. Selain itu, forum ini juga menjadi ruang dialog antara kreator dan jurnalis.
Dalam sesi diskusi, sejumlah jurnalis menyampaikan kesan mendalam terhadap film tersebut. Salah satunya menggambarkan atmosfer film seperti “padang mahsyar” yang sarat simbol dan menggambarkan kekacauan sistem sosial.

Menanggapi hal itu, Joko Anwar menjelaskan bahwa proses kreatif film ini tidak instan. Ia menyebut pengembangan cerita telah dimulai sejak 2017 hingga 2018 dan terus mengalami penyempurnaan.

Ia mengungkapkan bahwa film ini lahir dari refleksi terhadap kondisi Indonesia. Menurutnya, realitas sosial yang berkembang justru semakin kompleks dan penuh kontradiksi.

“Indonesia itu absurd. Banyak hal yang tidak masuk akal, tetapi justru dianggap biasa,” ujar Joko Anwar.

Ia menambahkan bahwa film ini tidak bertujuan menghadirkan keputusasaan. Sebaliknya, cerita tetap menyisakan ruang harapan bagi penonton sebagai refleksi kemanusiaan.

Dalam konsep penyutradaraan, film ini memadukan berbagai genre secara dinamis. Unsur komedi, horor, dan drama dihadirkan untuk menggambarkan kehidupan masyarakat yang penuh ironi.

Joko Anwar juga mengibaratkan sistem dalam film sebagai sebuah penjara. Ia menyebut seluruh karakter merupakan representasi warga yang hidup dalam sistem yang membatasi.

“Penjaranya adalah negara, dan kita semua berada di dalamnya,” kata dia.

Aktor Aming Sugandhi menjelaskan bahwa karakter yang ia perankan dibangun dari latar belakang emosional yang kompleks. Ia mengaku banyak menggali sisi psikologis tokoh untuk menghadirkan peran yang kuat.

Menurut Aming, pengalaman traumatis dalam cerita menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter. Hal tersebut membuat tokoh terasa lebih realistis dan relevan.

Dari sisi visual, film ini melibatkan sejumlah ilustrator untuk merancang adegan kematian secara artistik. Setiap adegan dibuat oleh ilustrator berbeda dengan pengalaman internasional.
Pendekatan visual tersebut memberikan warna tersendiri dalam film. Adegan-adegan simbolik ditampilkan dengan gaya estetika yang kuat dan penuh makna.

Joko Anwar menjelaskan bahwa sosok “hantu” dalam film merupakan metafora dari sisi gelap manusia. Ia menyebut karakter tersebut sebagai refleksi kondisi terburuk manusia ketika dikuasai emosi negatif.

“Hantu itu adalah kita sendiri, saat berada dalam kondisi paling buruk,” ujarnya.
Film ini juga mengangkat isu lingkungan sebagai bagian dari narasi. Entitas dalam cerita digambarkan berasal dari hutan yang rusak akibat ulah manusia, sebagai simbol konsekuensi eksploitasi alam.

Selain itu, film ini telah diputar dalam forum internasional dan mendapatkan respons positif. Penonton dari berbagai negara dinilai mampu memahami pesan film meskipun berlatar konteks Indonesia.

Joko Anwar menegaskan bahwa keautentikan menjadi kunci utama dalam berkarya. Ia menyampaikan bahwa cerita yang jujur dan berakar dari realitas lokal justru memiliki daya tarik universal. (***)

 

(Rizki)

Also Read

Tags