INSKANEWS,Bekasi, 6 Februari — GIS Peduli resmi meluncurkan program Green School di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri Kota Bekasi. Sekolah yang berada di wilayah Cisalak Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, tersebut ditetapkan sebagai pilot project pelaksanaan Green School di Kota Bekasi, sebagai upaya menanamkan kepedulian lingkungan hidup kepada peserta didik sejak usia dini.
Peluncuran program ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari dewan guru, peserta didik, hingga mitra pendukung, termasuk Emil Salim Institute. GIS Peduli menargetkan sedikitnya 100 sekolah di Kota Bekasi dapat terlibat dalam program Green School secara bertahap.
CEO GIS Peduli, Harsono, mengatakan bahwa Green School menjadi salah satu fokus utama organisasi dalam mendorong pendidikan lingkungan yang berkelanjutan.

“Program Green School merupakan salah satu fokus utama kami. Hari ini MI Negeri Kota Bekasi menjadi titik awal atau pilot project pelaksanaan Green School di Kota Bekasi,” ujar Harsono.
Ia berharap, melalui sekolah percontohan ini, program Green School dapat berkembang dan diterapkan di sekolah-sekolah lain, sehingga kesadaran menjaga lingkungan dapat dibangun secara masif dan berkesinambungan.
Menurut Harsono, tujuan utama Green School adalah membentuk karakter peduli lingkungan pada anak-anak melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, salah satunya melalui edukasi pemilahan sampah sejak dini.

“Anak-anak diajarkan mengenali jenis sampah, mana sampah plastik, mana sampah daun, sisa sayuran, dan sisa makanan,” jelasnya.
Ke depan, lingkungan sekolah akan dilengkapi dengan tempat sampah terpilah sesuai jenisnya. Dengan sistem tersebut, sampah yang dihasilkan dari aktivitas sekolah sudah terkelola dengan baik sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir.
GIS Peduli menilai langkah ini sangat penting, mengingat lokasi sekolah berada tidak jauh dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Permasalahan sampah yang tidak tertangani dengan baik dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi generasi mendatang
“Jangan sampai persoalan sampah hari ini menjadi beban bagi anak-anak kita di masa depan,” tegas Harsono.
Lebih lanjut, ia berharap kebiasaan baik yang ditanamkan di sekolah dapat diterapkan pula di lingkungan keluarga. Anak-anak diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang mengedukasi orang tua dan masyarakat sekitar.

“Insya Allah, dari langkah kecil ini, dampak besar bisa kita rasakan bersama,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen, GIS Peduli akan melakukan kontrol dan pendampingan secara berkala, serta menjalin kerja sama dengan seluruh unsur sekolah agar program Green School dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala MI Negeri Kota Bekasi, Deddi Mulyadi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kolaborasi yang dilakukan GIS Peduli dalam mendukung pendidikan lingkungan di sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama Kota Bekasi tersebut.
“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran GIS Peduli. Ini merupakan terobosan yang sangat baik bagi pengembangan program sekolah kami ke depan,” ungkap Deddi.
Ia menegaskan bahwa pihak sekolah memiliki perhatian serius terhadap isu lingkungan. Menurutnya, berbagai bencana alam yang terjadi saat ini tidak terlepas dari kerusakan lingkungan yang terjadi secara masif.
“Kami ingin menanamkan kepada anak didik sejak usia dini untuk mencintai lingkungan. Kesadaran ini penting karena banyak bencana terjadi akibat lingkungan yang tidak terjaga,” jelasnya.
Sebagai langkah nyata, pihak sekolah membiasakan siswa membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah organik dan anorganik, serta memanfaatkan lahan sekolah untuk kegiatan penghijauan.
“Walaupun sekolah kami berada di wilayah Bantar Gebang, kami berkomitmen bahwa di lingkungan sekolah ini tidak ada sampah,” tegas Deddi.
Dukungan juga datang dari Emil Salim Institute. Perwakilannya, Amelia Salim, menilai pendidikan lingkungan bagi anak-anak merupakan fondasi penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
“Kami sangat mendukung pendidikan lingkungan yang diberikan kepada anak-anak sejak usia dini. Anak-anak adalah fase awal pembentukan karakter,” ujarnya.
Menurut Amelia, kebiasaan sederhana seperti membuang dan memilah sampah akan memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten hingga dewasa.

Ia berharap anak-anak di kawasan Bantar Gebang dapat menjadi pelopor kebersihan dan memiliki kesadaran untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA.
“Bumi hanya satu dan tidak tergantikan. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.

















