INSKANEWS, Bekasi – Tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang Zona IV, Kota Bekasi, dilaporkan mengalami longsor pada Selasa pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Peristiwa tersebut sempat mengejutkan warga sekitar karena suara gemuruh yang cukup keras dari arah lokasi penumpukan sampah.
Longsoran gunungan sampah itu terjadi saat sejumlah kendaraan pengangkut sampah tengah berada di area pembuangan. Beberapa unit armada yang akan menurunkan muatan diduga tertimbun oleh material sampah yang runtuh.

Salah seorang warga yang tinggal di sekitar lokasi dan meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku mendengar suara keras yang menyerupai runtuhan dari arah TPST.
“Sekitar pukul sembilan pagi terdengar suara gemuruh sangat keras seperti sesuatu yang runtuh dari ketinggian. Kami yang berada di rumah langsung terkejut,” ungkapnya.
Menurutnya, setelah mendengar suara tersebut, ia bersama beberapa warga lainnya segera keluar rumah untuk memastikan sumber suara.
“Kami keluar rumah bersama tetangga untuk melihat apa yang terjadi. Saat sampai di lokasi terlihat alat berat jenis beko dalam kondisi terguling. Kami berharap tidak ada korban, karena beberapa mobil pengangkut sampah yang sebelumnya terlihat sudah tidak tampak lagi dan kemungkinan tertimbun longsoran,” jelasnya.
Peristiwa longsor di Zona IV TPST Bantargebang bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, insiden serupa juga dilaporkan terjadi pada 31 Desember 2025 di lokasi yang sama. Kondisi tumpukan sampah yang terus meningkat dikhawatirkan dapat memicu potensi longsor kembali jika tidak ditangani secara optimal.
TPST Bantargebang yang berada di wilayah Kota Bekasi telah lama menjadi lokasi pembuangan sampah dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dengan luas area sekitar 104,7 hektare, tempat pengolahan sampah ini telah beroperasi sejak 1989 dan dikenal sebagai salah satu fasilitas pengelolaan sampah terbesar di Indonesia.
Di kawasan tersebut juga terdapat ribuan pemulung yang menggantungkan hidup dari aktivitas memilah sampah. Diperkirakan sekitar 8.000 orang pemulung, baik warga sekitar maupun pendatang, bekerja di area TPST Bantargebang setiap harinya.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah yang lebih aman dan berkelanjutan guna menghindari potensi bencana serupa di masa mendatang.(Kus)

















