INSKANEWS, Bekasi – 25 Juli 2026 Rumah tangga dibangun di atas pondasi cinta, kepercayaan, dan komitmen. Ketika ketiga hal tersebut dijaga dengan baik, keluarga akan menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan bagi setiap anggotanya. Namun, ketika kepercayaan dikhianati melalui perselingkuhan, luka yang ditimbulkan sering kali sangat mendalam dan tidak mudah dipulihkan.
Di era digital saat ini, peluang terjadinya perselingkuhan semakin terbuka. Percakapan yang awalnya dianggap biasa melalui media sosial atau aplikasi pesan dapat berkembang menjadi hubungan yang melampaui batas. Tidak sedikit rumah tangga yang akhirnya dilanda konflik berkepanjangan, bahkan berujung pada perceraian.
Perselingkuhan bukan hanya persoalan antara dua orang. Dampaknya dapat dirasakan oleh anak-anak, keluarga besar, bahkan lingkungan sekitar. Anak-anak dapat kehilangan rasa aman dan kenyamanan dalam keluarga, sementara pasangan yang dikhianati sering mengalami tekanan emosional, kehilangan kepercayaan, serta luka batin yang mendalam.
Sayangnya, tidak sedikit orang yang memilih membalas perselingkuhan dengan melakukan hal yang sama. Mereka berharap rasa sakit akan berkurang atau menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk keadilan. Padahal, membalas kesalahan dengan kesalahan justru akan menambah luka, memperkeruh keadaan, dan semakin menjauhkan keluarga dari jalan penyelesaian.
Islam mengajarkan agar setiap muslim menjaga kehormatan diri serta memelihara kesucian ikatan pernikahan. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.
(QS. Al-Isra’ [17]: 32)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa menjaga diri dimulai dengan menjauhi segala hal yang dapat mengarah pada perbuatan yang merusak kehormatan diri maupun keutuhan rumah tangga.
Rasulullah SAW juga dikenal sebagai pribadi yang sangat menjaga amanah dan kepercayaan. Keteladanan beliau mengajarkan bahwa hubungan suami istri harus dibangun di atas kejujuran, tanggung jawab, kesetiaan, dan sikap saling menghormati.
Ketika rumah tangga sedang menghadapi ujian, langkah yang lebih bijaksana adalah membangun komunikasi yang terbuka dan jujur, melakukan introspeksi diri, meminta nasihat kepada orang yang dipercaya atau konselor keluarga, serta mengambil keputusan secara tenang dan penuh tanggung jawab. Setiap persoalan tentu memiliki jalan penyelesaian yang berbeda, namun membalas perselingkuhan dengan perselingkuhan hampir tidak pernah menyelesaikan akar masalah.
Kesetiaan bukan berarti perjalanan rumah tangga selalu berjalan tanpa ujian. Kesetiaan adalah pilihan untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebaikan ketika menghadapi cobaan. Dari sikap itulah kepercayaan dapat dipelihara, hubungan dapat diperbaiki, dan keluarga memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi lebih kuat.
Pada akhirnya, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap sikap dan perbuatannya. Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan, renungkanlah apakah tindakan yang akan dilakukan akan membawa kebaikan atau justru menambah penyesalan di kemudian hari.
Setia bukan sekadar tidak berpaling kepada orang lain. Setia adalah menjaga amanah, menghormati pasangan, serta tetap memilih jalan yang benar meskipun sedang terluka. Sebab, membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan tidak akan menghapus luka, melainkan hanya memperpanjang penderitaan.
“Rumah tangga yang kokoh tidak dibangun oleh pasangan yang sempurna, melainkan oleh dua insan yang terus berusaha menjaga kepercayaan, memperbaiki kesalahan, saling memaafkan, dan menghargai satu sama lain dalam setiap keadaan.”
Patnah Wati

















