INSKANEWS, Jakarta – Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang berasal dari pecahan plastik besar maupun partikel yang memang diproduksi dalam ukuran kecil. Partikel ini kini menjadi sorotan karena berpotensi membahayakan kesehatan manusia dan mencemari lingkungan.
Pencemaran mikroplastik ditemukan di berbagai tempat, mulai dari laut, sungai, tanah, udara, hingga rantai makanan. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan konsumsi plastik tinggi, turut menghadapi ancaman serius dari pencemaran ini.
Masalah mikroplastik meningkat dalam beberapa dekade terakhir seiring melonjaknya produksi dan penggunaan plastik sekali pakai secara global.
Sumber mikroplastik berasal dari aktivitas manusia sehari-hari, baik rumah tangga maupun industri. Dampaknya dirasakan oleh hewan laut, masyarakat pesisir, hingga konsumen yang tanpa sadar mengonsumsi makanan terkontaminasi.
Mikroplastik terbentuk melalui dua jalur utama. Pertama, mikroplastik sekunder yang berasal dari degradasi sampah plastik seperti botol minuman, kantong kresek, kemasan makanan, dan jaring ikan akibat paparan sinar matahari, panas, serta ombak. Kedua, mikroplastik primer yang memang diproduksi dalam ukuran kecil, seperti microbeads pada produk perawatan pribadi, serat mikro dari pakaian sintetis (polyester, nylon, akrilik), serpihan abrasi ban kendaraan, serta pelet plastik industri (nurdles).
Partikel kecil ini berbahaya karena dapat masuk ke rantai makanan. Hewan laut mengonsumsinya, lalu manusia berisiko ikut terpapar melalui makanan dan air minum. Selain itu, mikroplastik dapat membawa zat kimia berbahaya yang berpotensi mengganggu sistem hormon (efek estrogenik), memicu inflamasi, stres oksidatif, gangguan sistem imun, kerusakan saluran pencernaan, hingga meningkatkan risiko kanker. Meski demikian, para peneliti masih terus mendalami dampak jangka panjangnya bagi kesehatan manusia.
Pengolahan sampah plastik yang tidak tepat dapat memperparah penyebaran mikroplastik. Pembakaran plastik tanpa teknologi memadai dapat menghasilkan partikel kecil yang mencemari udara. Proses pencucian limbah plastik dan tekstil sintetis tanpa sistem penyaringan juga dapat melepaskan mikroplastik ke perairan.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat dianjurkan:
Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Menggunakan botol minum dan tas belanja yang dapat digunakan ulang.
Memilih produk perawatan pribadi tanpa microbeads.
Mencuci pakaian sintetis dengan filter khusus penangkap serat mikro.
Memilah sampah plastik dengan benar dan mendukung program daur ulang.
Upaya kolektif dari pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi kunci untuk menekan penyebaran mikroplastik. Tanpa perubahan perilaku dan sistem pengelolaan yang lebih baik, partikel kecil ini akan terus menjadi ancaman besar bagi kesehatan dan lingkungan.
Penulis : Deddy Haryadi

















