INSKANEWS,Cibinong,Jumat,12 Juni 2026 – Panggung Bazar Kabogorfest di Pakansari malam itu tidak hanya ramai oleh geliat UMKM, tetapi juga hangat oleh diskusi tentang masa depan Kebudayaan Bogor.Obrolan santai menjadi ruang pencerahan: bagaimana bahasa,tari,dan tradisi tetap hidup di era di gital.
Maka dalam diskusi ini mempertegas bahwa kebudayaan bukan hanya peninggalan masa lalu yang diam, melainkan sebuah warisan yang harus di turunkan kepada re generasi penerus zaman.
Maka dari itu Komitmen Pemkab Bogor: kebudayaan sebagai pembentuk karakter.
Yadi ,sapaan akrab kepala dinas kebudayaan dan pariwisata (Disbudpar) kabupaten Bogor, menyampaikan komitmen penuh Bupati Bogor dalam memajukan Kebudayaan daerah.
“Kita sudah memiliki peraturan Daerah yang menandakan adanya dukungan nyata dari pemerintah kabupaten Bogor dalam memajukan kebudayaan daerah.
“Kita sudah memiliki peraturan Daerah yang menandakan adanya dukungan nyata dari pemerintah kabupaten Bogor.kebudayaan kabupaten Bogor sangat heterogen dan berperan membentuk karakter masyarakat,”jelasnya.
Menurutnya, kebudayaan muncul dari interaksi,bahasa,serta hasil cipta,rasa,dan karsa manusia.Budaya dan pariwisata pun saling terintegrasi.”kit hadiri malam ini di tengah tengah gebyar UMKM Kabogorfest sebagai bukti bahwa ekonomi kreatif dan budaya berjalan beriringan,”tambahnya.
Sanggar BNS: cinta Kesenian di mulai sejak Dini.
Nenden, yang disapa pimpinan sanggar Seni Bina Nusa Seni (BNS) yang berdiri sejak 1997,berbagai kisah awal Mula kecintaannya pada seni.
” Awal dari kecintaan pada kesenian adalah hobi,lalu di tekuni secara, akademis di bidang seni tari,dari mulai usia empat tahun atau lima tahun di ajarkan pengenalan sejak dini sangat penting,”ungkapnya.
Bagi Nenden,sanggar bukan hanya tempat berlatih, tetapi rumah kedua untuk menumbuhkan rasa bangga pada budaya sendiri.
Anak anak yang sejak kecil mengenal tari tradisional akan tumbuh dengan identitas yang kuat.
Masukan untuk Mas Depan: Budaya dan pendidikan Harus Berjalan Bersama.
Pimpinan Sanggar BNS juga memberikan masukan kepada Disbudpar.Di era di digitalisasi dan abad ke -21,pendampingn terhadap pelaku seni tidak boleh di lepas.
“Dinas kebudayaan terpisah dari dinas pendidikan.pemisahan ini justru menambah konsentrasi dalam memajukan kebudayaan kabupaten Bogor,asalkan keduanya tetap bersinergi,”sarannya.
Pesan Untuk Generasi Muda.
Obrolan hangat ini menjadi pengingat: kemajuan teknologi tidak boleh membuat kita melupakan akar,justru di tengah gempuran budaya global,Generasi muda Bogor di tantang untuk menjadi duta Kebudayaan.
Belajar tari,memainkan alat musik tradisional,menulis pantun, serta mempelajari bahasa Sunda itu bagian dari kebudayaan Daerah.
Untuk itu (UMKM) Berjalan selaras dengan kesenian pun ikut naik,serta harus bisa menjadi bagian dari era digitalisasi.
Kabogorfest membuktikan satu hal: kebudayaan tidak akan punah jika ada generasi mau mengedepankan belajar berkarya dan mencintainya.
Mari mulai dari hal kecil – ikut sanggar,tonton pertunjukan,unggah karya budaya ke media sosial.karena menjaga budaya berarti menjaga diri bangsa.
Jurnalis
Dedi.s.
Irwandi

















