INSKANEWS,Karawang Barat, 15 Mei 2026 — Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Nurul Iman, Kampung Gempol Rawa, Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, berlangsung khidmat dan penuh makna pada Jumat (15/05/2026).
Bertindak sebagai khotib sekaligus imam dalam pelaksanaan ibadah tersebut adalah Ustadz Moh. Romadon.
Dalam khutbah pembukaannya, Ustadz Moh. Romadon mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan rasa syukur serta ketakwaan kepada Allah SWT.
Menurutnya, ketakwaan merupakan bekal utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa,” ujar khotib di hadapan jamaah Salat Jumat.

Pada khutbah inti, Ustadz Moh. Romadon menjelaskan sejarah awal disyariatkannya ibadah qurban dengan mengutip kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam Al-Qur’an Surah As-Saffat ayat 102 hingga 107.
Dalam penjelasannya, beliau mengisahkan bagaimana Nabi Ibrahim mendapat perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Ismail AS, sebagai bentuk ujian ketaatan kepada Allah SWT.
Khotib menjelaskan bahwa Nabi Ismail menerima perintah tersebut dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Ketika keduanya telah berserah diri kepada Allah SWT, maka Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.
“Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu,” kutip Ustadz Moh. Romadon dari Surah As-Saffat.
Beliau menambahkan bahwa kisah tersebut menjadi dasar disyariatkannya ibadah qurban bagi umat Islam.

Menurutnya, qurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menjadi simbol ketundukan, keikhlasan, dan pengorbanan seorang hamba kepada Sang Pencipta.
“Ayat ini menjelaskan kisah Nabi Ibrahim yang diperintah Allah menyembelih anaknya Ismail lewat mimpi. Keduanya lulus ujian ketaatan. Di akhir, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba besar.
Dari kisah inilah disyariatkan ibadah qurban,” jelasnya.
Menjelang akhir khutbah, Ustadz Moh. Romadon mengingatkan jamaah mengenai makna hakiki qurban dalam kehidupan manusia. Ia menegaskan bahwa qurban sejatinya adalah upaya memperbaiki diri dengan menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri manusia.
“Pada hakikatnya qurban bermakna memperbaiki diri, menyembelih sifat-sifat kehewanan pada diri manusia dan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT,” tutup khotib.
Pelaksanaan Salat Jumat tersebut berlangsung dengan tertib dan diikuti oleh masyarakat sekitar yang memadati Masjid Nurul Iman.
(Liputan: Rifa Hendri)

















