Serabi Mang Ujang, Kuliner Subuh Legendaris Sukup Baru yang Selalu Diburu Pembeli

inskanewstv

September 2, 2026

3
Min Read

On This Post

INSKANEWS, Bandung,  — Ketika sebagian besar masyarakat masih terlelap menikmati sisa waktu istirahat, aroma harum serabi yang dipanggang di atas tungku tradisional sudah lebih dulu menghidupkan suasana pagi di kawasan Sukup Baru, Kelurahan Pasir Endah, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung.

Di tempat sederhana itulah Mang Ujang bersama keluarganya setiap hari mulai berjualan sejak pukul 05.00 WIB. Meski lapaknya sederhana, pembeli yang datang seolah tidak pernah surut. Warga sekitar, pekerja, hingga tamu dari luar kota rela mampir untuk menikmati serabi hangat yang dibuat dengan cara tradisional.

Aktivitas jual beli biasanya berlangsung hingga sekitar pukul 09.30 WIB. Namun, waktu tersebut bukan menjadi patokan pasti, karena serabi bisa saja habis lebih cepat ketika pembeli sedang ramai.

Keistimewaan Serabi Mang Ujang terletak pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan metode tradisional. Adonan dimasak menggunakan cetakan tanah liat dan tungku arang sehingga menghasilkan aroma khas yang menggugah selera.

Teksturnya yang lembut dengan cita rasa gurih membuat serabi tersebut memiliki karakter tersendiri. Bagi pelanggan yang sudah mengenalnya, cita rasa tersebut menjadi alasan untuk kembali datang, bahkan ketika sedang tidak berada di sekitar Sukup Baru.

Mang Ujang bersama keluarganya juga dikenal ramah dalam melayani pelanggan. Meski harus menghadapi antrean pada jam-jam sibuk, mereka tetap berusaha menjaga kualitas makanan dan memberikan pelayanan terbaik kepada setiap pembeli.

Salah seorang pelanggan setia, Maryadi, mengaku selalu berusaha menyempatkan diri mampir ke lapak Serabi Mang Ujang ketika mendapat tugas ke Bandung.

“Kalau sedang bertugas ke Bandung, rasanya belum lengkap kalau belum mampir ke Serabi Mang Ujang di Sukup Baru. Selain ingin menikmati cita rasa serabinya yang khas dan sulit ditemukan di tempat lain, saya juga bisa bersilaturahmi dengan Mang Ujang dan warga sekitar,” ungkap Maryadi.

Menurutnya, ada kehangatan tersendiri ketika menikmati serabi di tempat tersebut. Suasananya sederhana, tetapi terasa dekat dan penuh kekeluargaan.

“Suasananya hangat, sederhana, tetapi penuh kekeluargaan. Semoga usaha Mang Ujang semakin maju dan tetap menjadi kuliner kebanggaan Sukup Baru,” tambahnya.

Bagi masyarakat setempat, lapak Mang Ujang bukan sekadar tempat membeli sarapan. Tempat tersebut juga menjadi ruang sederhana bagi warga untuk berkumpul, berbincang, dan mempererat tali silaturahmi sebelum memulai berbagai aktivitas.

Secangkir teh atau kopi yang menemani sepiring serabi hangat seakan menjadi bagian dari tradisi pagi warga Sukup Baru. Tidak sedikit pelanggan yang datang bukan hanya untuk membeli makanan, tetapi juga menikmati suasana dan keramahan yang sudah menjadi ciri khas lapak tersebut.

Keberadaan pedagang kuliner tradisional seperti Mang Ujang sekaligus menunjukkan bahwa usaha mikro memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Selain membantu menggerakkan roda perekonomian keluarga, usaha tersebut turut menjaga keberadaan kuliner tradisional agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

Cara memasak menggunakan tungku arang dan cetakan tanah liat yang masih dipertahankan menjadi bagian penting dari nilai tradisi yang dimiliki Serabi Mang Ujang. Kesederhanaan proses tersebut justru menjadi daya tarik yang membuat kuliner ini memiliki tempat tersendiri di hati pelanggan.

Semangat Mang Ujang berjualan sejak dini hari juga menjadi gambaran tentang perjuangan pelaku usaha kecil dalam mencari rezeki. Dengan ketekunan, kejujuran, serta pelayanan yang baik, sebuah lapak sederhana mampu bertahan dan dikenal luas oleh masyarakat.

Bagi warga Sukup Baru maupun para perantau yang pernah mencicipinya, Serabi Mang Ujang bukan sekadar makanan untuk mengganjal perut di pagi hari. Ada rasa, tradisi, keramahan, dan cerita tentang perjuangan yang menyatu dalam setiap sajian.

Semoga usaha Serabi Mang Ujang terus berkembang, memberikan keberkahan bagi keluarga, serta tetap menjadi salah satu kuliner subuh yang dirindukan warga Sukup Baru dan para pelanggan yang datang ke Bandung.

Wartawan  : Namin   Editor  : Kus

Related Post