INSKANEWS,Pulogebang, 21 Februari 2026 – Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di berbagai wilayah perkotaan, termasuk di Jakarta. Namun, kehadiran TPS 3R di Kelurahan Pulogebang menjadi salah satu solusi nyata dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) hadir sebagai fasilitas lokal yang mengedepankan prinsip mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah untuk menekan volume sampah yang dikirim ke TPA.
TPS 3R Pulogebang berperan penting dalam mendukung pengelolaan sampah di wilayah Jakarta Timur, sekaligus membantu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang yang selama ini menjadi lokasi pembuangan akhir sampah dari DKI Jakarta. Dengan pengolahan di tingkat lokal, volume sampah yang harus diangkut ke TPA dapat ditekan secara signifikan.
Di TPS 3R ini, sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman dan penghijauan lingkungan. Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam dipilah untuk didaur ulang atau dijual kembali sehingga memiliki nilai ekonomi. Proses ini tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat sekitar.
Sistem pengangkutan sampah di Pulogebang dilakukan secara terorganisir. Di setiap RT terdapat petugas yang bertanggung jawab mengambil sampah langsung dari rumah warga. Sampah yang telah terkumpul kemudian diangkut dan biasanya diantar ke TPS 3R menjelang sore hari. Pemandangan antrean gerobak dan kendaraan pengangkut sampah kerap terlihat di sepanjang Jalan BKT Rawa Bebek sebelum sampah diproses lebih lanjut.
Keberadaan TPS 3R Pulogebang juga membawa dampak positif terhadap kesehatan masyarakat. Dengan pengelolaan yang lebih teratur, risiko penumpukan sampah liar dan pencemaran lingkungan dapat diminimalkan. Lingkungan menjadi lebih bersih, bau tidak sedap berkurang, dan potensi berkembangnya penyakit akibat sampah dapat ditekan.
Lebih dari sekadar tempat pengolahan, TPS 3R juga menjadi sarana edukasi bagi warga tentang pentingnya memilah sampah dari rumah. Kesadaran masyarakat untuk memisahkan sampah organik dan anorganik menjadi kunci keberhasilan program ini. Partisipasi aktif warga membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama.
Dengan dukungan dan konsistensi semua pihak, TPS 3R Pulogebang diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan sampah tingkat lokal yang efektif, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Dans

















