INSKANEWS, Jakarta, 2 September 2026 — Yura Yunita menyuarakan keberanian perempuan untuk menghadapi ketakutan dan memilih bersuara melalui lagu terbarunya, “Pertiwi”. Lagu yang dirilis pada 2 September 2026 tersebut hadir sebagai refleksi tentang ketakutan, keberanian, serta suara-suara yang selama ini mungkin sengaja dikecilkan.
“Pertiwi” ditulis oleh Donne Maula dengan notasi dari Yura Yunita. Lagu ini diproduseri oleh Iwan Popo dengan aransemen yang dibangun secara megah, tetapi tetap memberikan ruang bagi emosi untuk tumbuh secara perlahan.
Kekuatan lagu tersebut tidak hanya terletak pada lirik dan musik, tetapi juga pada cara Yura membawakan setiap bagian dengan karakter vokal yang penuh tekanan emosional. Suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha tetap berdiri meski ketakutan belum sepenuhnya hilang.
Kondisi tersebut menjadi gambaran penting yang ingin dibawa “Pertiwi”. Keberanian tidak selalu berarti tidak memiliki rasa takut. Sebaliknya, keberanian dapat muncul ketika seseorang tetap memilih berbicara meski tangan masih gemetar dan suara masih bergetar.
Melalui “Pertiwi”, Yura membuka ruang bagi pengalaman perempuan yang selama ini memilih diam. Lagu tersebut dapat membawa pendengarnya pada berbagai pengalaman, mulai dari menghadapi ketidakadilan, menyimpan kemarahan, mempertahankan keyakinan, hingga menemukan kembali keberanian untuk mengatakan apa yang selama ini hanya berhenti di tenggorokan.
“Pertiwi” pun tidak hadir dengan satu tafsir mutlak. Yura membiarkan setiap pendengar menemukan pengalaman mereka sendiri di dalam lagu tersebut.
Bagi sebagian orang, “Pertiwi” mungkin mengingatkan pada sosok ibu. Bagi yang lain, lagu ini dapat menjadi cermin bagi perempuan-perempuan yang pernah dipaksa diam, mengalami ketidakadilan, atau merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan suara mereka.
Dalam konteks tersebut, “Pertiwi” menjadi lebih dari sekadar lagu. Karya ini seperti sebuah ruang untuk mengingatkan bahwa suara seseorang tetap memiliki arti, bahkan ketika suara tersebut tidak disampaikan dengan lantang.
Pesan itu juga diterjemahkan Yura melalui video musik “Pertiwi” yang dirilis bersamaan dengan audionya pada 2 September 2026. Untuk memperkuat sisi emosional karya tersebut, Yura menggandeng Kathleen Malay sebagai sutradara dan Siko Setyanto sebagai koreografer.
Kolaborasi tersebut menghadirkan visual yang berangkat dari emosi dan pengalaman batin. Gerak, ekspresi, serta bahasa visual menjadi bagian dari cara “Pertiwi” menyampaikan pesan tanpa harus menjelaskannya secara gamblang.
Yura sendiri tidak ingin membatasi pendengar pada satu pemaknaan. Ia justru mengajak mereka untuk memberikan ruang bagi lagu tersebut agar berbicara melalui pengalaman masing-masing.
“Dengarkan dan nikmati saja lagu dan video musiknya. Cari ruang yang sedikit sunyi, biarkan lagunya selesai. Lalu tunggu beberapa detik dalam hening. Perhatikan siapa yang muncul di kepala. Perhatikan bagian mana yang membuat dada kamu terasa sesak,” kata Yura.
Ajakan tersebut menjadi bagian penting dari “Pertiwi”. Lagu ini tidak memaksa pendengar memahami sebuah pesan tertentu, tetapi mengajak mereka mendengarkan kembali suara yang mungkin selama ini sengaja disembunyikan.
Pada akhirnya, keberanian yang ditawarkan “Pertiwi” bukan tentang menjadi sosok yang tidak pernah takut. Justru sebaliknya, lagu ini berbicara tentang keberanian untuk tetap melangkah ketika rasa takut masih ada.
Sebab, kebenaran tidak selalu lahir dari suara yang paling keras. Terkadang, ia justru muncul dari suara yang gemetar, tetapi memilih untuk tidak diam lagi.
(Ryennaldy)








