Krisis Sampah Jakarta Kian Mengkhawatirkan, Kepedulian Sosial Jadi Kunci Perubahan

INSKA NEWS

×

🎁 Tunggu Sebentar!

Sebelum meninggalkan halaman ini, lihat rekomendasi produk pilihan yang sedang banyak dicari.

Lihat Sekarang

INSKA NEWS, Jakarta — Persoalan pengelolaan sampah dan penguatan kepedulian sosial menjadi topik utama dalam Talk Show yang digelar pada rangkaian acara Pelestari Bhinneka Tunggal Ika Menyongsong Lima Abad Kota Jakarta, Kamis (18/6/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dr. Ir. Kun Wardana Abyoto Pakar AI selaku Ketua Umum DPP IPJI, Noor Kholis, CPLA selaku Ketua Umum AsMEN, M. Ridho dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat, serta Budiswanto dari keluarga besar PPK.

Dalam paparannya, M. Ridho menjelaskan bahwa Jakarta saat ini menghadapi kondisi darurat sampah. Produksi sampah harian di ibu kota mencapai sekitar 8.000 ton per hari, sementara kapasitas pengiriman ke TPST Bantar Gebang mulai dibatasi. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menargetkan pengurangan volume sampah hingga 50 persen mulai 1 Agustus 2026 melalui program pemilahan sampah dari sumbernya.

Menurut Ridho, masyarakat perlu memahami empat jenis sampah yang harus dipilah, yaitu sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta sampah residu. Sampah organik berasal dari sisa makhluk hidup yang mudah terurai, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, kardus, dan kaca masih memiliki nilai daur ulang. Adapun sampah B3 meliputi limbah bahan kimia, botol oli, bekas pestisida, dan produk berbahaya lainnya, sementara sampah residu mencakup tisu, pembalut, dan popok sekali pakai.

“Jika masyarakat belum mampu memilah empat jenis sampah sekaligus, mulailah dari dua kategori terlebih dahulu, yaitu organik dan anorganik. Langkah sederhana ini sudah sangat membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir,” ujar Ridho.

Pada sesi berikutnya, Ketua Umum Ikatan Donor Darah Bersama Sehat (IDBS), Endang Surya, menjelaskan kontribusi komunitas donor darah dalam mendukung kesehatan masyarakat Jakarta. Ia menuturkan bahwa komunitas tersebut beranggotakan para pendonor aktif yang secara sukarela membantu memenuhi kebutuhan darah bagi pasien di berbagai rumah sakit tanpa memungut biaya apa pun.

Endang mengatakan bahwa IDBS telah membantu ribuan masyarakat sejak dibentuk pada 2017. Ia menegaskan bahwa seluruh relawan bekerja atas dasar kemanusiaan dan kepedulian sosial. “Kami melarang anggota meminta imbalan dalam bentuk apa pun. Jika ada keluarga pasien yang membutuhkan darah, cukup menyampaikan surat permintaan dari rumah sakit dan kami akan berusaha membantu melalui jaringan relawan yang kami miliki,” katanya.

Sementara itu, Dr. Ir. Kun Wardana Abyoto Pakar AI menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi persoalan lingkungan. Ia mengungkapkan bahwa kalangan akademisi telah mengembangkan teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan, memiliki emisi rendah, tidak membutuhkan lahan luas, serta dapat menjadi salah satu solusi alternatif dalam pengurangan sampah di wilayah perkotaan.

Ketua Umum AsMEN, Nur Kholis CPLA, menambahkan bahwa sampah sesungguhnya memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik. Sebagai pelaku usaha di bidang pengolahan limbah logam, ia menilai bahwa sebagian besar sampah masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. “Bagi kami tidak ada istilah sampah yang tidak berguna. Plastik, logam, kardus, hingga berbagai limbah lainnya memiliki nilai ekonomi jika dipilah dan dikelola oleh pihak yang tepat. Kesadaran masyarakat dan kemudahan regulasi menjadi kunci terwujudnya Jakarta yang bersih dan berkelanjutan,” ujar Nur Kholis.

Melalui forum tersebut, para narasumber sepakat bahwa keberhasilan pengurangan sampah di Jakarta tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Partisipasi masyarakat, dukungan dunia usaha, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan komunitas sosial dinilai menjadi faktor penting dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan menjelang peringatan lima abad Kota Jakarta. (***)

 

(Rizki)

Also Read

Tags