INSKANEWS., Jakarta, 9 September 2026 — Putri Marino menghadapi perjalanan emosional sekaligus visual yang tak biasa lewat film Empat Musim Pertiwi. Berperan sebagai Pertiwi, Putri membawa penonton mengikuti kepulangan seorang perempuan ke tanah kelahirannya setelah puluhan tahun pergi.
Film terbaru sutradara Gadis Kretek, Kamila Andini, tersebut semakin menarik perhatian setelah trailer dan posternya resmi dirilis Forka Films. Bukan hanya mengandalkan drama personal, Empat Musim Pertiwi menawarkan perpaduan lintas genre dengan sentuhan fiksi ilmiah (sci-fi) serta lanskap Bromo sebagai bagian penting dari pengalaman sinematiknya.
Kawasan Bromo menjadi salah satu lokasi utama pengambilan gambar film. Proses syuting dilakukan pada 2025 dengan menjelajahi sejumlah titik, mulai dari permukiman, persawahan hingga kawasan berpasir.
Skala produksinya pun disebut menjadi yang terbesar bagi Forka Films. Luasnya lokasi pengambilan gambar membuat kebutuhan logistik produksi menjadi lebih kompleks, sementara proses post-production turut diperkaya dengan berbagai detail visual untuk membangun dunia dalam film.
Di tengah lanskap Bromo yang khas, Putri Marino hadir sebagai Pertiwi, perempuan yang kembali setelah puluhan tahun meninggalkan tanah kelahirannya.
Kepulangan tersebut bukan sekadar perjalanan pulang. Pertiwi harus kembali berhadapan dengan orang-orang dari masa lalu yang pernah menjadi bagian dari hidupnya—mereka yang menghadirkan musim terbaik sekaligus musim terburuk dalam kehidupannya.
Karakter Pertiwi menjadi tantangan tersendiri bagi Putri. Ia mengaku proses mendalami karakter tersebut cukup berat dan menguras energi.
Untuk membantu membangun karakter Pertiwi, Kamila memberikan sejumlah bahan bacaan kepada Putri. Salah satunya novel Perempuan di Titik Nol karya penulis Mesir, Nawal el-Saadawi.
“Di sini, aku diminta untuk menjadi seseorang yang seperti sudah mati di dalamnya, dingin. Salah satu yang juga sebenarnya membantuku untuk mengembangkan karakter Pertiwi adalah saat aku diberi bahan bacaan buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi, dan aku akhirnya bisa memahami apa yang dilalui Pertiwi,” ujar Putri Marino.
Kamila Andini Eksplorasi Sci-Fi
Empat Musim Pertiwi menjadi ruang eksplorasi baru bagi Kamila Andini. Jika sebelumnya dikenal melalui karya-karya seperti Yuni dan Gadis Kretek, kali ini Kamila mencoba pendekatan cross-genre dengan memasukkan unsur fiksi ilmiah.
Bagi Kamila, penggunaan sci-fi bukan sekadar untuk memberikan warna berbeda. Genre tersebut dipilih karena dianggap sesuai dengan kebutuhan cerita dan menjadi medium untuk menyampaikan perjalanan Pertiwi serta orang-orang di sekitarnya.
“Sebenarnya, secara personal saya sangat menyukai film-film sci-fi. Namun, baru sekarang saya merasa punya kebutuhan untuk menampilkan sesuatu lewat sci-fi secara yang lebih luas dan universal,” ujar Kamila Andini.
Eksplorasi tersebut membuat Empat Musim Pertiwi tidak berhenti sebagai kisah tentang kepulangan seseorang. Film ini juga membawa penonton memasuki pengalaman sinematik yang lebih luas melalui perpaduan cerita, lanskap alam, dan pendekatan artistik Kamila.
Menariknya, gagasan film ini telah muncul sejak 2017, jauh sebelum Kamila menggarap Gadis Kretek dan Before, Now & Then. Putri Marino bahkan sejak awal telah diproyeksikan untuk menjadi Pertiwi.
Film ini juga mempertemukan kembali tim Gadis Kretek, yakni Kamila Andini, produser Ifa Isfansyah, Putri Marino, dan Arya Saloka.
Selain Putri dan Arya, film tersebut dibintangi Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, dan Totos Rasiti.
Kehadiran Dwika Pradnyana, aktor dengan vitiligo, dan Hanna Aretha, aktor tuli, turut menjadi bagian dari representasi keberagaman dalam film.
Debut Dunia di Toronto
Perjalanan Empat Musim Pertiwi tidak hanya berhenti di Indonesia. Dengan judul internasional Four Seasons in Java, film ini akan menjalani world premiere di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 pada September.
Penayangan tersebut sekaligus menandai kembalinya Kamila Andini ke festival film Toronto setelah Yuni meraih Platform Prize pada 2021.
Setelah Toronto, Empat Musim Pertiwi juga akan hadir di Busan International Film Festival (BIFF) 2026. Film ini dijadwalkan tayang dalam program A Window On Asian Cinema.
Program tersebut menghadirkan karya-karya sineas Asia yang telah memiliki jejak di peta sinema internasional sekaligus memperkenalkan talenta-talenta baru dari Asia.
Kehadiran di dua festival film internasional tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Empat Musim Pertiwi sebelum akhirnya bertemu dengan penonton Indonesia.
Produser Ifa Isfansyah berharap penonton dapat ikut merasakan perjalanan Pertiwi ketika film tersebut hadir di layar lebar.
“Senang rasanya film Empat Musim Pertiwi dapat tayang di bioskop Indonesia dalam waktu yang berdekatan ketika filmnya World Premiere di Toronto dan dalam waktu yang bersamaan dengan tayangnya di Busan,” ujar Ifa.
Produksi Enam Negara
Skala internasional film ini semakin terlihat melalui keterlibatan enam negara dalam produksinya, yakni Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia.
Empat Musim Pertiwi juga didukung serta berkolaborasi dengan Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros. Film ini turut mendapatkan dukungan dari Oriflame.
Untuk distribusi internasional, Empat Musim Pertiwi telah mendapatkan representasi dari Goodfellas, international sales agent asal Prancis yang dikenal menangani film-film auteur dengan perjalanan di berbagai festival film dunia.
Setelah menempuh perjalanan dari lanskap Bromo hingga panggung festival internasional, Putri Marino kini bersiap membawa Pertiwi pulang kepada penonton Indonesia.
Empat Musim Pertiwi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.
Pewarta : Ryennaldy Editor








