Antisipasi Risiko Bencana, Pemkot Jakarta Timur dan BPBD DKI Gelar Simulasi Gempa Bumi

inskanewstv

October 21, 2026

3
Min Read

On This Post

Jakarta Timur, INSKANEWS – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menggelar simulasi kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi di Ruang Serbaguna Blok A, Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Rabu (21/10/2026).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan aparatur pemerintah, petugas penyelamat, serta seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi sekaligus meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian material.

Simulasi tersebut merupakan tindak lanjut Instruksi Sekretaris Daerah (Insekda) Nomor 44 Tahun 2026 tentang Simulasi Gempa Secara Serentak di Wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Pelaksanaan simulasi diprioritaskan pada gedung-gedung pemerintahan sebagai proyek percontohan (pilot project) dalam membangun budaya tanggap darurat dan meningkatkan kemampuan evakuasi saat terjadi bencana.

BPBD Pastikan Proses Evakuasi Berjalan Lancar

Sekretaris BPBD DKI Jakarta, Ali Mansur Siregar, yang membuka kegiatan tersebut menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan, seluruh tahapan simulasi mulai dari lantai satu hingga lantai delapan berlangsung lancar.

Sebanyak 20 petugas gabungan dilibatkan dalam kegiatan ini, termasuk 10 personel BPBD Jakarta Timur serta petugas lainnya yang disiagakan untuk mendukung proses evakuasi.

“Para petugas serta pegawai di lokasi melaksanakan evakuasi dan prosedur tetap (protap) kebencanaan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan prosedur diakhiri dengan pelaporan kondisi keamanan di setiap lantai kepada Komandan Peleton (Danton) yang bertugas,” jelas Ali.

Menurutnya, simulasi tersebut menjadi sarana penting untuk menguji kesiapan petugas sekaligus mengukur kemampuan pegawai dalam merespons situasi darurat.

Ali mengakui bahwa dirinya sempat terkejut ketika simulasi berlangsung secara mendadak. Namun, para peserta mampu beradaptasi dengan cepat dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Sistem Peringatan Dini Gempa Diperkenalkan

Selain pelaksanaan evakuasi, kegiatan ini juga memperkenalkan aplikasi Indonesia Earthquake Early Warning System (InaEEWS) yang dikembangkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Teknologi tersebut dirancang untuk mendeteksi gelombang seismik awal dan memberikan peringatan dini sebelum getaran utama gempa mencapai wilayah yang berpotensi terdampak.

Pengenalan sistem ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman aparatur pemerintah mengenai pentingnya teknologi peringatan dini sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.

Evaluasi Sirine dan Kesiapan Petugas

Meski pelaksanaan simulasi secara umum berjalan lancar, BPBD DKI Jakarta tetap melakukan evaluasi terhadap sejumlah aspek teknis yang perlu ditingkatkan.

Salah satu perhatian utama adalah kecepatan penyampaian tanda bahaya melalui sirine serta kesiapsiagaan personel dalam memberikan informasi darurat kepada seluruh penghuni gedung.

“Dalam evaluasi pasca-simulasi, dinilai perlunya peningkatan pada respons penyampaian tanda bahaya (sirine) dan kesiapsiagaan personel agar penyampaian informasi darurat kepada masyarakat dapat berlangsung lebih cepat dan tepat,” ungkap Ali.

Kegiatan yang turut dihadiri Kepala Bagian Pemerintahan Kota Administrasi Jakarta Timur, Carlos Damanik, tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi antarlembaga dalam menghadapi situasi kebencanaan.

Ali menegaskan bahwa keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama dalam setiap langkah penanggulangan bencana.

“Meskipun bencana tidak diharapkan terjadi, kesiapsiagaan seluruh elemen petugas dan masyarakat sangat penting untuk meminimalisasi risiko dampak bencana di masa mendatang,” tegasnya.

Melalui simulasi ini, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur bersama BPBD DKI Jakarta berharap seluruh aparatur dan masyarakat semakin memahami prosedur penyelamatan diri, jalur evakuasi, serta langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.

Kesiapsiagaan yang dibangun secara berkelanjutan diharapkan mampu menciptakan lingkungan pemerintahan yang lebih aman, tangguh, dan responsif terhadap potensi bencana.(Kus)

Related Post