INSKA NEWS, JAKARTA – Ketua Dewan Pembina Forum Asistensi Media Nasional (AsMEN), Dr. (H.C.) Asrul Alamsyah, S.Pd.I., S.I.P., M.M., menegaskan bahwa arah perjalanan atau roadmap bangsa Indonesia sejatinya dapat direnungkan melalui pesan kebangsaan yang terkandung dalam lagu Indonesia Raya tiga stanza.
Pesan tersebut disampaikan dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-5 Forum AsMEN sekaligus menyambut Hari Sumpah Pemuda 2026. Kegiatan berlangsung di Balai Kota DKI Jakarta pada Selasa (20/10/2026).
Acara mengusung tema “Semangat Sumpah Pemuda, Jiwa Gotong Royong: Sinergi AsMEN, Pemerintah, dan Generasi Muda Memperkuat Ketahanan Nasional.” Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat sinergi antara insan pers, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan generasi muda dalam menjaga persatuan serta memperkuat ketahanan nasional.
Dalam arahannya, Ketua Dewan Pembina AsMEN mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali memahami nilai-nilai historis dan pesan kebangsaan yang terkandung dalam lagu Indonesia Raya tiga stanza.

Menurutnya, lagu kebangsaan Indonesia Raya tidak hanya menjadi simbol identitas nasional, tetapi juga dapat menjadi sumber refleksi mengenai cita-cita kemerdekaan, persatuan, semangat perjuangan, dan tanggung jawab terhadap masa depan Indonesia.
Ia menekankan bahwa nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan para pendiri bangsa harus terus dipahami dan diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
“Indonesia Raya tiga stanza harus dipahami sebagai salah satu warisan berharga dari para pendahulu bangsa. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu kita selaraskan dengan perkembangan zaman agar bangsa ini tidak kehilangan arah,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Semangat tersebut dinilai relevan dengan tantangan bangsa saat ini, mulai dari menjaga persatuan di tengah keberagaman, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, hingga membangun generasi muda yang berkarakter dan memiliki kepedulian terhadap kepentingan nasional.
Dalam kesempatan yang sama, perhatian juga diarahkan pada pentingnya melestarikan sejarah Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober.
Sumpah Pemuda yang lahir pada 28 Oktober 1928 merupakan tonggak penting dalam perjalanan pergerakan nasional Indonesia. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia menjadi landasan historis bagi penguatan identitas serta persatuan nasional.
Dalam rangkaian pembahasan sejarah tersebut, disampaikan pula keterangan mengenai tokoh bernama Djohan Machmud Tjaja, yang dalam penuturan keluarga dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan pemuda pada masa sebelum kemerdekaan.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan ketua dewan pembina AsMEN, Djohan Machmud Tjaja berasal dari Bengkulu dan berlatar belakang Melayu. Ayahandanya bernama Machmud Taja, yang menurut penuturan keluarga pernah menjadi penilik.
Keterangan keluarga tersebut juga menyebut sejumlah anggota keluarga lainnya, antara lain Ana Mahmud Tjaja, yang disebut pernah menjabat sebagai kepala sekolah di Sekolah Kartini, Kemayoran, Jakarta, serta Indra Machmud Tjaja, yang dikaitkan dengan pembangunan Jembatan Ampera di Palembang pada era Presiden Soekarno.

Sementara itu, Djohan Nachmud Tjaja disebut memiliki keterlibatan dalam organisasi Jong Islamieten Bond dan pergerakan pemuda. Dalam keterangan keluarga, namanya juga dikaitkan dengan penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.
Informasi tersebut menjadi pengingat akan pentingnya penelusuran sejarah keluarga dan tokoh pergerakan nasional. Untuk kepentingan dokumentasi sejarah yang akurat, rincian mengenai nama, jabatan, serta peran masing-masing tokoh perlu diperkuat melalui arsip, dokumen sezaman, dan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut keterangan keluarga, makam almarhum Djohan Machmud Tjaja berada di TPU Karet Bivak, Jakarta, berdekatan dengan kompleks pemakaman keluarga Tjaja.
Penyampaian kisah tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa sejarah bangsa tidak hanya tercatat dalam peristiwa besar, tetapi juga tersimpan dalam perjalanan hidup para tokoh, keluarga, organisasi, dan masyarakat yang turut membentuk kesadaran kebangsaan.
Selain menyampaikan pesan kebangsaan, Ketua Dewan Pembina AsMEN juga menyoroti peran strategis media massa dalam kehidupan demokrasi dan pembangunan nasional.
Ia mengingatkan bahwa pers harus tetap kritis dalam menjalankan fungsi jurnalistik, termasuk mengawasi jalannya pemerintahan dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Namun, sikap kritis tersebut harus berjalan seiring dengan profesionalisme, objektivitas, dan tanggung jawab terhadap kebenaran informasi.
Pemberitaan perlu disusun berdasarkan fakta, melalui verifikasi yang memadai, serta memperhatikan prinsip keberimbangan dan kepentingan publik. Media juga dituntut untuk menghindari penyebaran informasi yang menyesatkan, terutama ketika mengangkat isu sejarah, kebangsaan, dan kehidupan sosial.
Prinsip tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik yang menjadi pedoman bagi wartawan dalam menjalankan profesinya.
Melalui momentum HUT ke-5 ini, AsMEN diharapkan terus mendorong peningkatan kompetensi insan pers, memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap media, serta membangun ekosistem informasi yang sehat dan bertanggung jawab.
Peringatan HUT ke-5 Forum AsMEN di Balai Kota DKI Jakarta dihadiri oleh sejumlah perwakilan pemerintah, tokoh organisasi, jajaran pengurus, serta insan pers.
Gubernur DKI Jakarta, Dr. H. Pramono Anung Wibowo, M.M., diwakili oleh Adam dari bidang komunikasi publik, sebagaimana disampaikan dalam keterangan panitia.
Turut hadir Andi Baso Paharudin, S.STP., M.Si., dari Sekretariat Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri; Abdul Khalid dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta; Marulina Dewi Mutiara dari unsur yang disebut berkaitan dengan Diskominfotik; serta AKBP Dedi Nurhadi dari unsur Polres Metro Jakarta Timur.
Dari kalangan tokoh dan organisasi, hadir Dr. Risman Pasaribu dari
Forum Kepakaran Indonesia (FKI), Dr. Suparman, S.Pd.I., S.O.S., M.M., selaku Pembina AsMEN, Dr. (H.C.) Sastra Suganda, M.J., selaku Dewan Pendiri AsMEN, serta Dadang Kusnandar, B.Sc., selaku Pengawas AsMEN.
Hadir pula Ketua Umum Forum AsMEN, Nurkholis, CPLA, bersama H. Vaturohman, S.E., M.M., Ketua DPW sekaligus Ketua Panitia kegiatan.
Kegiatan tersebut juga diikuti jajaran pengurus DPD dari lima kota, Ketua DPW Banten, Ketua DPW Jawa Barat, insan pers, serta para tamu undangan lainnya.
Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya komunikasi dan kolaborasi lintas lembaga dalam mendukung pembangunan, menjaga persatuan, serta meningkatkan kontribusi media bagi masyarakat.
Peringatan HUT ke-5 Forum AsMEN tidak hanya menjadi ajang refleksi perjalanan organisasi, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen terhadap pers nasional yang profesional, independen, dan bertanggung jawab.
Melalui semangat Sumpah Pemuda dan nilai gotong royong, AsMEN diharapkan terus membangun kemitraan dengan pemerintah, organisasi masyarakat, serta generasi muda tanpa meninggalkan fungsi kritis pers dan kepentingan publik.
Pesan mengenai Indonesia Raya tiga stanza menjadi ajakan untuk memaknai kembali sejarah, menjaga persatuan, dan menerjemahkan cita-cita para pendiri bangsa ke dalam tindakan nyata.
Sementara itu, pelestarian kisah para tokoh pergerakan pemuda perlu disertai dokumentasi dan verifikasi sejarah agar dapat menjadi sumber pembelajaran yang akurat bagi generasi mendatang.
Dengan demikian, semangat kebangsaan, profesionalisme jurnalistik, dan kolaborasi lintas generasi diharapkan menjadi bagian dari kontribusi nyata AsMEN dalam memperkuat persatuan serta ketahanan nasional.
(MMN_INSKA NEWS)








