INSKANEWS, Bekasi 21 Juli 2026 –Prinsip ini seharusnya menjadi pegangan utama setiap orang tua dalam mendidik dan membesarkan buah hatinya. Sebab, jangan sampai karena kelalaian atau ketidaktahuan orang tua, anaklah yang pada akhirnya menanggung dampak negatifnya di kemudian hari.
Tidak dapat dipungkiri, kondisi ekonomi yang tidak menentu saat ini membuat banyak keluarga kesulitan memberikan pendidikan yang lebih baik dari yang mereka harapkan. Naiknya kebutuhan hidup, terbatasnya lapangan kerja, hingga biaya pendidikan yang terus meningkat menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua untuk memenuhi hak dasar anak, khususnya di bidang pendidikan.
Meski demikian, di tengah keterbatasan tersebut, keyakinan akan janji Allah dalam Al-Qur’an menjadi sumber optimisme. Allah telah menjamin bahwa setiap makhluk yang diciptakan-Nya telah disiapkan pula rezeki dan kebutuhannya, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Hud : 6:[11]
> *وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ*
Wa mā min dābbatin fil-arḍi illā ‘alallāhi rizquhā wa ya’lamu mustaqarrahā wa mustauda’ahā, kullun fī kitābim mubīn.
Artinya: Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Keyakinan ini menjadi pengingat bagi para orang tua untuk tidak berputus asa, sekaligus tetap berikhtiar semaksimal mungkin dalam mendidik dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Pada akhirnya, tanggung jawab mendidik anak bukan hanya soal kemampuan ekonomi semata, melainkan juga soal kesungguhan, ikhtiar, dan keyakinan orang tua dalam menjalankan amanah yang telah dititipkan kepada mereka.
(Patnah Wati)

















