INSKANEWS,Babelan, Bekasi, 12 Juni 2026 – Di tengah hiruk pikuk aktivitas Pasar Babelan yang nyaris tidak pernah berhenti selama 24 jam, tersimpan kisah sederhana tentang ketekunan, harapan, dan perjuangan hidup. Pasar tradisional yang menjadi denyut nadi perekonomian masyarakat ini bukan hanya tempat transaksi jual beli, tetapi juga ruang bagi banyak orang untuk menggantungkan asa demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Sejak tengah malam, aktivitas di Pasar Babelan sudah mulai terlihat. Truk-truk pengangkut sayuran datang silih berganti menurunkan hasil panen dari berbagai daerah. Para pedagang dan pekerja pasar bergerak cepat menyiapkan dagangan sebelum fajar menyingsing. Suasana yang ramai tersebut terus berlanjut hingga malam hari, menciptakan siklus kehidupan yang tak pernah benar-benar berhenti.
Di salah satu sudut pasar, terdapat sosok yang akrab disapa Bang Apid. Setiap hari, sejak subuh hingga menjelang magrib, ia setia menjajakan kembang untuk kebutuhan ziarah kubur. Dengan lapak sederhana dan tumpukan bunga warna-warni yang tertata rapi, Bang Apid menjadi bagian dari wajah Pasar Babelan yang penuh cerita.
“Alhamdulillah, selama masih ada yang datang membeli, saya tetap semangat berjualan,” ujar Bang Apid sambil melayani pembeli yang singgah di lapaknya.
Bagi sebagian orang, kembang tabur mungkin hanya komoditas sederhana. Namun, di tangan Bang Apid, bunga-bunga tersebut memiliki makna yang lebih dalam. Kembang yang dijualnya menjadi bagian dari tradisi masyarakat untuk mengenang dan mendoakan keluarga yang telah berpulang. Di balik setiap transaksi, terdapat nilai budaya, penghormatan kepada leluhur, serta ikatan emosional yang terus terjaga.
Kisah Bang Apid juga menjadi gambaran tentang ketahanan para pelaku usaha kecil yang tetap bertahan di tengah berbagai tantangan ekonomi. Dengan kerja keras dan ketekunan, mereka membuktikan bahwa usaha sekecil apa pun memiliki peran penting dalam menggerakkan roda perekonomian lokal.
Keberadaan pasar tradisional seperti Pasar Babelan perlu terus mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak. Selain menjadi pusat perdagangan, pasar juga menjadi tempat tumbuhnya interaksi sosial, solidaritas, dan semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Di tengah derasnya modernisasi dan perkembangan pusat perbelanjaan modern, kisah Bang Apid mengingatkan bahwa masih banyak harapan yang tumbuh dari sudut-sudut pasar tradisional. Dari lapak sederhana yang dipenuhi aroma bunga, tersimpan pelajaran tentang kerja keras, kesabaran, dan keyakinan bahwa rezeki akan selalu datang bagi mereka yang terus berusaha.
Pasar Babelan bukan sekadar tempat jual beli. Di sana, asa terus hidup, tumbuh, dan menginspirasi setiap orang yang melangkah di antara ramainya aktivitas pasar.
(Dadan)

















