INSKA NEWS, Indramayu—–Tidak banyak bangsa di dunia yang dianugerahi keberagaman sebesar Indonesia. Lebih dari 17.000 pulau, ratusan kelompok etnis, bahasa daerah yang tak terhitung jumlahnya, serta berbagai agama dan keyakinan hidup berdampingan dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Bagi sebagian bangsa, keberagaman sebesar itu mungkin menjadi sumber perpecahan. Namun bagi Indonesia, keberagaman justru menjadi kekuatan yang memungkinkan bangsa ini terus bertahan dan berkembang hingga hari ini.
Pandangan itulah yang disampaikan Ws. Gunadi Prabuki, S.Pd., M.Ag., Kepala Bidang Pendidikan Tinggi Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, dalam Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al Zaytun, Selasa (16/6/2026).
Di hadapan ribuan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang agama, profesi, dan daerah, Gunadi Prabuki mengajak seluruh elemen bangsa untuk melihat kemajemukan sebagai anugerah yang harus dijaga dan dirawat bersama.
Kemajemukan Adalah Keniscayaan, menurut Gunadi Prabuki, keberagaman merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. Perbedaan adalah bagian dari kehidupan manusia. Karena itu, yang terpenting bukanlah menghilangkan perbedaan, melainkan membangun kemampuan untuk hidup bersama di tengah perbedaan tersebut.
Dalam ajaran Konghucu dikenal sebuah prinsip luhur bahwa manusia yang berbudi pekerti akan mampu hidup rukun meskipun memiliki pandangan yang berbeda. Sebaliknya, mereka yang hanya mengejar kepentingan diri sendiri akan sulit membangun harmoni meskipun berada dalam lingkungan yang seragam. Menurutnya, pelajaran penting inilah yang perlu terus ditanamkan kepada generasi muda Indonesia.
Bahwa kerukunan bukan lahir karena semua orang sama. Kerukunan lahir karena adanya kesediaan untuk saling menghormati. Pendidikan Karakter sebagai Fondasi Bangsa, dalam paparannya, Gunadi memberikan perhatian besar pada pentingnya pendidikan karakter. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan beriringan dengan pembangunan moralitas.
Bangsa yang maju tidak cukup hanya memiliki sumber daya manusia yang cerdas. Bangsa yang maju juga membutuhkan manusia-manusia yang memiliki integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan rasa malu untuk melakukan perbuatan yang tidak benar. Karena itu, pendidikan harus diarahkan untuk membentuk manusia yang utuh.
Tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar bangsa modern adalah kecenderungan mengukur keberhasilan hanya dari aspek material. Padahal kemajuan yang sesungguhnya juga harus tercermin dari kualitas karakter masyarakatnya.
Kebajikan sebagai Perekat Persatuan. Gunadi Prabuki menekankan bahwa persatuan bangsa tidak dapat dibangun hanya melalui aturan dan kebijakan. Persatuan harus tumbuh dari kesadaran moral setiap individu. Dalam tradisi Konghucu, kebajikan merupakan fondasi utama dalam membangun hubungan antarmanusia.
Ketika seseorang memiliki kebajikan, ia akan menghormati orang lain, Ia akan menjaga ucapannya. Ia akan menghindari tindakan yang merugikan sesama. Dan pada akhirnya, ia akan berkontribusi dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.
Menurut Gunadi, nilai-nilai seperti itulah yang perlu terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bangsa yang dipenuhi oleh manusia-manusia berbudi luhur akan lebih mudah menjaga persatuan dan membangun kemajuan bersama. Belajar dari Al Zaytun, salah satu hal yang mendapat perhatian Gunadi Prabuki adalah suasana yang ia rasakan selama berada di Al Zaytun.
Menurutnya, peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah menjadi contoh bagaimana keberagaman dapat dipertemukan dalam suasana yang damai dan penuh penghormatan. Tokoh-tokoh lintas agama hadir dalam satu forum. Mereka berbicara tentang masa depan bangsa.
Mereka menyampaikan pandangan yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni membangun Indonesia yang lebih baik. Bagi Gunadi, suasana seperti itu mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, perbedaan menjadi kekayaan yang memperluas wawasan dan memperkuat persaudaraan kebangsaan.
Menyiapkan Generasi Berbudi Luhur, menurut Gunadi, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya.
Karena itu, pendidikan harus memberi perhatian yang seimbang antara penguasaan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter. Generasi muda perlu dipersiapkan menjadi manusia yang cerdas, terampil, dan inovatif.
Namun lebih dari itu, mereka juga harus menjadi manusia yang jujur, bertanggung jawab, menghormati sesama, dan mencintai bangsanya. Dalam pandangannya, bangsa yang berhasil membangun karakter generasinya akan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan bangsa yang hanya mengejar kemajuan material. Menjaga Indonesia dengan Kebajikan
Menjelang akhir paparannya, Gunadi Prabuki mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga Indonesia melalui kebajikan-kebajikan kecil yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati sesama, menjaga kejujuran, menghindari prasangka, memelihara kerukunan. Dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Dari podium Peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah di Al Zaytun, ia menyampaikan pesan yang sederhana tetapi sangat mendalam. Bahwa kemajemukan bukanlah ancaman bagi Indonesia. Kemajemukan adalah anugerah. Dan anugerah itu hanya akan menjadi kekuatan apabila dirawat dengan kebajikan.
Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya atau maju teknologinya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang masyarakatnya mampu hidup rukun dalam perbedaan, menjunjung nilai-nilai moral, serta menjadikan kebajikan sebagai fondasi kehidupan bersama.
Di situlah Indonesia menemukan kekuatannya. Dan di situlah masa depan Indonesia dapat terus dibangun dengan penuh harapan. (***)
(Ali Aminulloh)

















