INSKANEWS,. Lebak – Budaya bukan hanya identitas, tetapi juga memiliki potensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Hal tersebut tampak dalam pelaksanaan program Pemanfaatan Ruang Publik “Banten Merawat Warisan” yang digelar Yayasan Rindang Indonesia bersama Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI di Kampung Adat Kasepuhan Cipinang, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, pada 29 Juni hingga 5 Juli 2026.
Selama sepekan, kawasan adat ini tidak hanya menjadi pusat pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi pelaku usaha kuliner lokal melalui puluhan stan bazar kuliner dan produk masyarakat.
Berbagai kegiatan budaya seperti Workshop Tari Topeng, Seminar Rudat, hingga pertunjukan Dogdog Lojor menghadirkan masyarakat, wisatawan, akademisi, komunitas seni, dan pelajar dalam satu ruang interaksi yang mendorong perputaran ekonomi lokal.

Ketua Umum Yayasan Rindang Indonesia, M. Adhie Pamungkas, SH, mengatakan budaya memiliki peran penting dalam pembangunan masyarakat apabila dikelola secara kolaboratif.
“Pelestarian budaya nasional merupakan upaya strategis untuk memperkuat identitas dan karakter generasi muda di tengah derasnya arus budaya global,” ujarnya.
Ia menilai program ini tidak hanya menjaga tradisi tetap hidup, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan masyarakat melalui ekonomi kreatif berbasis budaya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat gotong royong, seluruh peserta workshop, narasumber, relawan, dan panitia menerima penghargaan atas kontribusi mereka dalam menyukseskan kegiatan.
Melalui dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI, program ini menjadi contoh bagaimana investasi negara pada sektor kebudayaan mampu memberikan dampak ganda, yakni menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat adat.
Model kolaborasi ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.***

















