Tantangan Tristan Muslim Menghadapi Alien di Film Foufo

INSKA NEWS

INSKANEWS, Jakarta, 3 Juli 2026 – Menjadi pemeran utama untuk pertama kalinya di film layar lebar bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi komika Tretan Muslim dalam film Foufo. Aktor asal Bangkalan, Madura, itu justru mengaku harus berjuang keras menguasai dialog berbahasa Madura dialek Pamekasan dan logat Surabaya, yang tidak digunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Film produksi Skak Studios bersama SinemArt tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026. Dalam film bergenre komedi fiksi ilmiah itu, Tretan Muslim memerankan tokoh Muslim, seorang pengepul barang rongsokan yang hidupnya berubah setelah bertemu seekor alien bernama Foufo.

Bagi Tretan, peran tersebut menjadi pengalaman baru karena selain dipercaya sebagai pemeran utama untuk pertama kalinya, ia juga dituntut memainkan adegan emosional di luar citranya sebagai komedian.

Namun, tantangan terberat justru datang dari penggunaan bahasa Madura. Meski lahir dan besar di keluarga Madura, ia mengaku sudah jarang menggunakan bahasa daerah tersebut sejak merantau ke Surabaya untuk kuliah, kemudian menetap di Jakarta untuk berkarier.

“Kalau saya bebannya karena ini membawa kesukuan. Jujur saya sudah lama tidak ngomong Madura. Saya ngomong Madura itu paling sama ibu saya saja,” ujar Tretan Muslim saat gala premiere Foufo di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (3/7/2026).

Kesulitan semakin terasa karena naskah film menggunakan dialek Madura Pamekasan, sedangkan Tretan merupakan penutur dialek Bangkalan. Menurutnya, perbedaan dialek antardaerah di Pulau Madura cukup signifikan sehingga ia harus mempelajari kembali pengucapan dan kosakata yang digunakan dalam skenario.

“Pas membaca naskah saya sampai berpikir, ‘Memang ada ya bahasa Madura seperti ini?’. Konsultan bahasa di film ini memakai dialek Pamekasan, sedangkan saya Bangkalan. Itu saja sudah berbeda. Membaca dialognya saja susah sekali buat saya. Itu yang menjadi tantangan terbesar,” katanya.

Selain harus menyesuaikan dialek Madura Pamekasan, beberapa dialog juga menggunakan logat Surabaya, sehingga proses pendalaman karakter menjadi semakin kompleks.

Disutradarai sekaligus diproduseri Bayu Skak, Foufo mengangkat budaya Madura sebagai latar utama cerita. Sekitar 70 persen dialog menggunakan bahasa Madura dan diperkuat dengan keterlibatan sekitar 90 persen pemeran yang berasal dari Madura agar nuansa budaya yang dihadirkan terasa autentik.

Film ini mengisahkan perjuangan Muslim mengumpulkan biaya haji untuk ibunya. Hidupnya berubah ketika menemukan bangkai pesawat UFO dan menyelamatkan seekor alien bernama Foufo. Kehadiran makhluk luar angkasa tersebut membantu mengatasi kesulitan ekonomi keluarganya, tetapi juga memaksanya memilih antara mewujudkan impian sang ibu berangkat ke Tanah Suci atau menolong Foufo kembali ke kapal induknya.

Tretan berharap Foufo tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat memperkenalkan budaya Madura secara lebih luas sekaligus mengikis berbagai stereotip negatif yang selama ini masih melekat di masyarakat.

Selain Tretan Muslim, film ini juga dibintangi Habib Ja’far, Ade “Bibier” Kurniawan, Benedictus Siregar, Bambang Ceper, Siti Kam, Fuad Sasmita, Sangat Mahendra, Anggun Dwi, Ina Pogang, Rifqy Abdillah, Kiano, Hari Otong, Rizki Bibir, dan DJ Rara. (***)

(RZ)

Also Read

Tags