INSKANEWS, Yogyakarta , 6 Agustus 2026 – dikenal sebagai Kota Budaya yang memiliki beragam warisan tradisional bernilai tinggi. Salah satunya adalah batik lurik, kain bermotif garis-garis yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa sejak masa Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16.
Kata lurik berasal dari bahasa Jawa, yaitu larik atau lorek, yang berarti garis-garis. Pada masa lampau, kain lurik ditenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dan dikenakan oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari petani, abdi dalem, hingga keluarga keraton. Tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, lurik juga dipercaya memiliki makna spiritual sebagai simbol perlindungan, kesederhanaan, dan keseimbangan hidup.
Seiring perkembangan zaman, batik lurik terus mengalami inovasi tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya. *Beragam motif, seperti Kluwung, Tumbar Pecah, Telupat* , *dan Udan Liris* , memiliki filosofi yang berbeda-beda. *Motif* *Kluwung* *melambangkan harapan dan keselamatan, Tumbar Pecah menggambarkan kerukunan dalam* keberagaman, sedangkan Udan Liris dimaknai sebagai doa agar kehidupan dipenuhi keberkahan dan rezeki.
Hingga saat ini, sentra tenun lurik di Yogyakarta, terutama di Kabupaten Sleman, Kulon Progo, dan wilayah sekitarnya, masih mempertahankan proses pembuatan secara tradisional sebagai bentuk pelestarian budaya. Pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 2 Oktober 2009 semakin mendorong masyarakat untuk mencintai dan melestarikan kain tradisional, termasuk lurik.
Bagi mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah IAI Al-AZIZ, batik lurik mengandung pesan yang selaras dengan nilai-nilai dakwah Islam. Susunan garis yang sederhana namun teratur menggambarkan pentingnya disiplin, persatuan, kerja sama, dan keseimbangan dalam kehidupan.
Nilai-nilai tersebut menjadi bekal bagi seorang dai dalam membangun komunikasi yang baik, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta mengajak masyarakat kepada kebaikan dengan pendekatan yang santun dan penuh hikmah. Dakwah tidak hanya diwujudkan melalui ceramah, tetapi juga melalui pelestarian budaya yang mengandung nilai moral dan memperkuat identitas bangsa.
Kini, batik lurik tidak hanya dikenakan dalam acara adat, tetapi juga berkembang menjadi busana modern seperti kemeja, gamis, blazer, outer, rok, hingga aksesori yang digemari generasi muda. Perpaduan unsur tradisional dan modern membuktikan bahwa budaya lokal mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Melalui kecintaan terhadap batik lurik, mahasiswa Manajemen Dakwah IAI Al-AZIZ diharapkan mampu menjadi generasi yang menjaga warisan budaya, memperkuat karakter kebangsaan, serta menjadikan nilai-nilai budaya sebagai media dakwah yang menebarkan kedamaian, persatuan, dan kemaslahatan bagi masyarakat.
Penulis : Ngatiyah

















