INSKA NEWS, Jakarta — Netflix bersama Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) dan Badan Perfilman Indonesia (BPI) meluncurkan program Cerita Anak Nusantara, sebuah kompetisi sekaligus program pengembangan ide cerita film panjang yang berfokus pada tema anak, remaja, dan keluarga Indonesia. Program ini ditujukan untuk menjaring talenta-talenta baru di dunia perfilman sekaligus memperkuat ekosistem film keluarga yang berkualitas di Tanah Air.
Peluncuran program tersebut diumumkan di Jakarta, Senin (23/6/2026).
Pendaftaran peserta telah dibuka dan akan berlangsung hingga 1 Juli 2026. Melalui program ini, para peserta diberi kesempatan mengembangkan ide cerita orisinal menjadi treatment skenario yang siap dipresentasikan kepada industri perfilman.
Program Cerita Anak Nusantara didukung oleh Netflix Fund for Creative Equity. Inisiatif ini lahir dari meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap tontonan yang aman, berkualitas, dan relevan untuk seluruh anggota keluarga.
Perkembangan tersebut terlihat dari semakin tingginya minat penonton terhadap film bertema keluarga yang mampu merepresentasikan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Salah satu indikator pertumbuhan pasar film keluarga terlihat dari keberhasilan film animasi Jumbo karya Ryan Adriandhy yang mencatatkan lebih dari 10 juta penonton di bioskop nasional pada 2025.
Kesuksesan tersebut menunjukkan bahwa film anak dan keluarga memiliki potensi besar untuk berkembang sekaligus menjadi ruang kreatif bagi para pembuat film Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, Cerita Anak Nusantara akan memilih 10 finalis terbaik untuk mengikuti rangkaian lokakarya dan pendampingan intensif bersama para sineas berpengalaman. Para peserta akan mendapatkan bimbingan mulai dari pengembangan ide cerita, pendalaman karakter, hingga penyusunan treatment skenario yang lebih matang dan siap dikembangkan menjadi film panjang.
Director of Global Affairs Southeast Asia Netflix, Ruben Hattari, mengatakan bahwa kebiasaan keluarga untuk menonton bersama terus meningkat dan membuka peluang bagi lahirnya lebih banyak karya yang ramah keluarga.
Ia menilai kebutuhan terhadap tontonan yang berkualitas menjadi semakin penting di tengah beragam pilihan hiburan yang tersedia saat ini.
“Keluarga kini semakin banyak meluangkan waktu untuk menonton bersama. Ada peluang besar untuk mengembangkan cerita yang ramah keluarga dan menghadirkan ekosistem tontonan yang aman serta terpercaya. Kami ingin menciptakan ruang yang memberikan kenyamanan bagi orang tua sekaligus memperkaya pengalaman anak melalui cerita yang bermakna,” ujarnya.
Ketua Umum APROFI, Edwin Nazir, menegaskan bahwa film anak dan keluarga memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang generasi mendatang. Menurut dia, program ini menjadi wadah bagi sineas muda untuk menghadirkan cerita yang autentik dan dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
“APROFI percaya investasi terbaik bagi industri perfilman dimulai dari cerita yang kuat. Melalui Cerita Anak Nusantara, kami ingin menunjukkan bahwa sineas Indonesia memiliki kapasitas untuk menghadirkan karya yang relevan dan layak dinikmati bersama keluarga,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum BPI, Fauzan Zidni, menilai program tersebut merupakan langkah kolaboratif untuk memperkuat fondasi industri film anak dan keluarga di Indonesia. Program ini terbuka bagi sineas yang ingin mengembangkan cerita fiksi orisinal untuk film panjang dengan klasifikasi usia Semua Umur (SU), 7+, atau 13+, dengan latar dan karakter utama anak-anak maupun keluarga Indonesia.
Prioritas diberikan kepada sutradara yang baru memulai karier dan paling banyak pernah menyutradarai satu film panjang. Informasi lengkap mengenai syarat, mekanisme pendaftaran, dan jadwal kegiatan dapat diakses melalui situs resmi program Cerita Anak Nusantara. (***)
(Rizki)

















