Monster Pabrik Rambut Angkat Horor Dunia Kerja Modern

INSKA NEWS

INSKA NEWS, Jakarta—–Film Monster Pabrik Rambut resmi diperkenalkan kepada media dalam acara pemutaran khusus dan konferensi pers yang digelar di Epicentrum XXI, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Senin (1/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pembuat film, yakni sutradara Edwin, produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, penulis Eka Kurniawan, serta para pemeran utama seperti Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Sal Priadi, Kev, dan Aryani Willems.

Menjelang penayangan perdana di bioskop pada 4 Juni 2026, para kreator menjelaskan bahwa film ini lahir dari kegelisahan terhadap budaya kerja yang semakin tidak manusiawi. Tema mengenai kelelahan akibat pekerjaan berlebihan, tekanan kerja, hingga eksploitasi tenaga kerja dipilih karena dinilai dekat dengan kehidupan masyarakat di berbagai negara dan memiliki relevansi universal.

Produser Meiske Taurisia mengatakan sejak awal Palari Films merancang proyek ini agar mampu bersaing di tingkat internasional. Menurutnya, isu yang diangkat tidak hanya dekat dengan masyarakat Indonesia, tetapi juga dirasakan oleh pekerja di berbagai belahan dunia. “Kami percaya film Indonesia memiliki daya saing global. Karena itu, sejak awal kami memikirkan bagaimana cerita yang dibuat bisa relevan untuk penonton Indonesia maupun internasional,” ujarnya.

Untuk mendukung kualitas produksi, film ini melibatkan kolaborasi lintas negara yang mencakup Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. Kerja sama tersebut tidak hanya menyangkut pendanaan, tetapi juga melibatkan sejumlah tenaga kreatif internasional, mulai dari sinematografer, editor, hingga proses pascaproduksi. Langkah ini dilakukan sebagai upaya memperkuat kualitas artistik sekaligus membuka jalan bagi film Indonesia di pasar global.

Sutradara Edwin menjelaskan bahwa monster dalam film ini tidak sekadar hadir sebagai makhluk menyeramkan, melainkan simbol dari sistem kerja yang eksploitatif. Ia menilai budaya kerja yang memaksa seseorang tetap bekerja di luar batas kewajaran telah menjadi bagian dari “monster” yang hidup di tengah masyarakat modern. “Monster dalam film ini bukan hanya satu sosok, tetapi sebuah sistem yang membuat eksploitasi terus berlangsung dan dianggap normal,” kata Edwin.

Dalam proses produksinya, tim kreatif memilih menggunakan pendekatan practical effect atau efek fisik dibandingkan efek visual berbasis komputer. Edwin menyebut sebagian besar adegan horor dibuat secara nyata di lokasi syuting agar para aktor dapat berinteraksi langsung dengan objek dan karakter yang muncul di layar. Pendekatan tersebut diyakini mampu menghadirkan pengalaman visual yang lebih kuat dan autentik bagi penonton.

Penulis Eka Kurniawan menambahkan bahwa film horor sejak awal memang kerap digunakan sebagai medium kritik sosial. Menurutnya, kehidupan sehari-hari sesungguhnya menyimpan banyak ketakutan yang nyata, termasuk tekanan pekerjaan dan tuntutan ekonomi. “Kami ingin penonton melihat bahwa benda-benda dan aktivitas yang biasa ditemui setiap hari pun dapat menjadi sesuatu yang menakutkan ketika dikaitkan dengan sistem kerja yang tidak sehat,” tuturnya.

Sementara itu, para pemeran menilai film ini juga membawa pesan mengenai keberanian bersuara dan pentingnya solidaritas di lingkungan kerja. Rachel Amanda melihat karakter Putri sebagai representasi perempuan yang harus bertahan demi keluarga, sedangkan Lutesha memandang karakter Ida sebagai simbol pekerja yang berani mempertanyakan ketidakadilan. Melalui perpaduan horor fantasi, kritik sosial, dan sentuhan komedi gelap, Monster Pabrik Rambut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda sekaligus mengajak penonton merefleksikan realitas dunia kerja masa kini.  (***)

(Rizki)

Also Read

Tags