Operasi Pesta Copet, Film Nekat yang Menyegarkan

inskanewstv

August 19, 2026

8
Min Read

On This Post

INSKANEWS, Jakarta, 19 Agustus 2026— Film Operasi Pesta Copet menawarkan perpaduan drama, komedi, dan aksi dengan latar dunia pencopetan serta hiruk-pikuk festival musik. Film produksi Imajinari bersama Angin Segar dan Boss Creator itu menjadi debut penyutradaraan film panjang Edy Khemod.

Hal tersebut disampaikan dalam press conference setelah press screening Operasi Pesta Copet di Studio 1 Plaza Senayan XXI, Jakarta, Selasa (18/8/2026). Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.

Film tersebut dibintangi Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal, Kristo Immanuel sebagai Adut, Zulfa Maharani sebagai Tia, Kawai Labiba sebagai Melody, serta Fauzan Lubis sebagai Silet. Sejumlah pemeran lain yang turut terlibat di antaranya Ardit Erwandha, Azizah Hanum, Rio Dumatubun, dan Kiki Narendra.

Di balik layar, Edy Khemod menulis skenario bersama Rino Sarjono. Film ini diproduseri Ernest Prakasa, Dipa Andika, James Erlangga, dan Iqbaal Ramadhan. Sementara itu, Dicky R. Maland dipercaya sebagai sinematografer dan Aline Jusria sebagai editor.

Ernest Prakasa mengatakan Operasi Pesta Copet merupakan salah satu proyek dengan proses pengembangan terpanjang di Imajinari. Ide film tersebut mulai dipresentasikan pada 2023 hingga akhirnya diproduksi dan siap ditayangkan pada 2026.

“Film ini adalah film terlama yang kita develop, tiga tahun. Di Imajinari dari pertama kali came out pitching itu 2023, sampai sekarang tayang itu tiga tahun,” kata Ernest.

Menurut Ernest, tantangan terbesar sejak awal adalah bagaimana menerjemahkan cerita yang membutuhkan adegan berskala besar, khususnya ketika karakter Ijal harus tampil di panggung festival Pestapora.

“Bayangin ada Iqbaal Ramadhan tiba-tiba naik ke panggungnya Pestapora. Itu gimana nge-shooting-nya?” ujarnya.

Namun, keberanian mengambil risiko justru menjadi semangat utama film tersebut. Ernest berharap energi itu dapat dirasakan penonton ketika menyaksikannya di bioskop.

“Pengennya orang keluar itu ngerasa kalau ini tuh sebuah yang fresh. Nekat, fresh, menyegarkan, berani. Sebuah sajian yang mungkin jarang bisa ditemuin di bioskop Indonesia,” tuturnya.

Menggabungkan Film dan Pestapora

Salah satu tantangan terbesar produksi adalah pengambilan gambar di festival musik Pestapora. Tim film tidak sekadar membuat ulang suasana festival, tetapi menggabungkan materi yang direkam di lokasi dengan footage nyata Pestapora.

Dipa Andika menjelaskan bahwa tim mulai memetakan lokasi pengambilan gambar sejak Pestapora 2024 untuk persiapan produksi pada 2025. Masalahnya, kesempatan untuk mengambil gambar di festival sangat terbatas.

“Kalau gagal ya sudah gagal. Kita enggak bisa besok coba lagi. Kalau gagal, ya sudah, tahun depan coba lagi,” kata Dipa.

Tim produksi kemudian bekerja sama dengan Boss Creator untuk memastikan kebutuhan pengambilan gambar dapat dilakukan. Beberapa adegan juga direkam di studio dengan membuat replika panggung agar dapat menyatu secara visual dengan rekaman Pestapora.

Untuk mendukung atmosfer konser, sejumlah penampilan musisi direkam secara langsung. Mar Galo dan Ken Jenie terlibat dalam penggarapan musik, termasuk scoring dan kurasi musik yang digunakan dalam film.

Edy Khemod mengatakan Panturas menjadi salah satu pilihan musik yang sejak awal sudah terbayang dalam skenario, khususnya untuk adegan kejar-kejaran di pasar. Sementara itu, sejumlah penampilan Morfem dan Teenage Death Star direkam secara live untuk mendapatkan karakter suara konser yang lebih autentik.

“Kita dapetin multitrack-nya, terus kemudian kita mixing supaya rasanya memang kayak lo denger live concert,” jelas Edy.

Dengan pendekatan tersebut, penonton diharapkan tidak sekadar menyaksikan film berlatar festival, tetapi turut merasakan pengalaman seperti berada di tengah konser.

Adegan Wall of Death Jadi Tantangan

Salah satu adegan yang paling menantang adalah Wall of Death. Adegan tersebut melibatkan ratusan orang yang harus melakukan gerakan secara berulang dengan pengaturan kamera yang presisi.

Edy mengungkapkan prosesnya membutuhkan koordinasi panjang, termasuk penggunaan cable cam untuk mengambil gambar dari sudut atas.

“Kendalanya adalah kita nge-tackle untuk mereplikasi adegan yang sama untuk 500 orang melakukan adegan yang sama berkali-kali. Itu lumayan challenging,” ujarnya.

Proses pengambilan gambar adegan tersebut bahkan berlangsung berjam-jam. Hasilnya menjadi salah satu bagian yang paling dibanggakan Edy karena pengalaman menontonnya terasa berbeda ketika disaksikan di layar bioskop.

“Wall of Death salah satu yang gue banggakan. Itu salah satu adegan yang ketika lo nonton di editing sama nonton di bioskop itu beda banget rasanya,” katanya.

Improvisasi Menjadi Bagian Film

Selain adegan aksi berskala besar, Operasi Pesta Copet juga mengandalkan improvisasi para pemain. Edy sengaja memberikan ruang kepada para aktor agar karakter mereka terasa lebih natural.

“Treatment kita memang mau dokumenter. Jadi gue memang sengaja enggak pengen anak-anak ini scripted-nya kaku. Jadi sudah, lepasin saja,” ujar Edy.

Kristo Immanuel, yang memerankan Adut, mengakui banyak momen dalam film lahir dari improvisasi. Hal tersebut justru menjadi tantangan tersendiri karena pemain harus tetap menjaga kesinambungan adega

Menurut Edy, pendekatan tersebut sesuai dengan karakter film yang ingin menghadirkan persahabatan dan dinamika kelompok anak muda secara lebih spontan.

Fauzan Lubis Jalani Debut Film

Salah satu kejutan dalam film ini adalah kehadiran Fauzan Lubis sebagai Silet. Vokalis Seringai tersebut menjalani debutnya di film layar lebar.

Edy memilih Fauzan setelah sebelumnya melihat kemampuannya dalam pertunjukan teater musikal Ken Arok di Synchronize Fest.

“Salah satunya gara-gara itu. Bosnya sudah pernah bekerja sama, sudah ngelihat, meskipun memang waktu itu teritorinya masih teater. Karena teater sama film berbeda,” kata Edy.

Menurut Edy, Fauzan justru mampu membawa karakter jalanan yang kuat ke dalam film.

“Saya membawa sense of reality jalanan ke anak-anak baik ini. Dengan bahwa satu brengsek, dia yang dari jalanan beneran,” ujarnya.

Fauzan mengaku pengalaman bermain film memberikan banyak pelajaran baru. Berbeda dengan teater yang dimainkan secara langsung dalam satu kesempatan, film menuntut konsistensi emosi, dialog, hingga gerak tubuh dalam beberapa kali pengambilan gambar.

Ia juga melakukan riset untuk mendapatkan aksen karakter Silet. Fauzan kembali mendatangi lingkungan sekitar Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan berdiskusi dengan sejumlah teman untuk memahami aksen serta gaya bicara anak-anak Jakarta.

Dalam proses tersebut, Fauzan juga mendapat nasihat dari kakaknya, Wafda Saifan Lubis, yang mengingatkan pesan almarhum Yayu Unru.

“Zan, ingat kata Mas Yayu, sisakan ketidaktahuan. Di situ letak Tuhan hadir,” kata Fauzan mengutip pesan tersebut.

Kawai Labiba Belajar Dunia Musik Indonesia

Kawai Labiba yang memerankan Melody mendapat tantangan berbeda. Karakternya digambarkan sebagai anak muda yang baru lulus SMA dan sedang mencari identitas diri sekaligus mencoba memahami dunia musik.

Kawai mengaku harus memperluas pengetahuannya mengenai skena musik Indonesia kontemporer untuk mendalami karakter tersebut.

“Rasa ingin tahunya. Kalau memang ingin cari tahu tentang sesuatu, dikuliknya sampai ke dalam-dalam,” kata Kawai.

Ia menyebut keterlibatannya dalam film membuatnya mengenal sejumlah musisi dan band yang sebelumnya belum diketahuinya.

Bagi Kawai, karakter Melody merepresentasikan anak muda yang sedang mencari jalan hidup dan berusaha menemukan lingkungan yang sesuai dengan dirinya.

Film Persahabatan dan Chosen Family

Kristo Immanuel melihat hubungan Adut dan Ijal sebagai salah satu kekuatan emosional film. Persahabatan mereka menggambarkan konsep chosen family, yakni orang-orang yang dipilih untuk menjadi keluarga di luar keluarga yang diperoleh sejak lahir.

“Chosen family itu sama pentingnya dengan keluarga yang kita dapatkan dari lahir. Keluarga yang kita pilih itu orang yang menjadi support system kita di luar keluarga inti,” kata Kristo.

Menurutnya, keluarga pilihan bukan hanya hadir ketika seseorang berada dalam kondisi bahagia, tetapi juga ketika menghadapi masa terburuk.

Iqbaal Ingin Film Jadi Penanda Zaman

Iqbaal Ramadhan yang memerankan Ijal sekaligus menjadi salah satu produser dan pengisi soundtrack berharap film ini dapat berbicara kepada mereka yang selama ini merasa tidak memiliki ruang untuk bersuara.

“Aku berharap film ini bisa menjadi suara yang pertama-tama untuk mereka yang tidak diberikan kesempatan atau bersuara,” ujar Iqbaal.

Ia juga berharap penonton dapat menemukan bagian dari dirinya dalam karakter, musik, persahabatan, suasana festival, maupun keberanian yang ditampilkan film tersebut.

“Harapannya mereka bakal jawab Operasi Pesta Copet,” katanya ketika membayangkan film ini menjadi salah satu kenangan masa muda penontonnya pada masa mendatang.

Bukan Sekadar Film Pencopetan

Meski mengangkat pencopetan sebagai bagian penting cerita, Edy menegaskan film ini tidak dibuat untuk mengajarkan penonton melakukan tindak kejahatan.

Sebaliknya, cerita tersebut diharapkan membuat masyarakat lebih waspada ketika berada di ruang publik, terutama dalam situasi kerumunan seperti konser musik.

Kawai juga mengaku menjadi lebih waspada setelah mengalami sendiri situasi kerumunan saat menghadiri pertunjukan musik.

“Jadinya lebih waswas, lebih merhatiin sekitar, merhatiin barang bawaan sendiri juga,” ujarnya.

Sementara itu, tim produksi menyiapkan artbook yang tidak hanya berisi foto di balik layar dan potongan storyboard, tetapi juga membahas sejarah pencopetan di Indonesia berdasarkan arsip dan riset.

Edy mengatakan tim menemukan arsip pemberitaan mengenai pencopetan sejak dekade 1950-an. Materi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas konteks film di luar cerita fiksi yang ditampilkan di layar.

Imajinari Berani Keluar dari Zona Nyaman

Bagi Ernest, Operasi Pesta Copet bukan sekadar film dengan genre tertentu. Imajinari memilih untuk tidak terlalu menekankan label heist karena istilah tersebut dinilai belum terlalu familiar bagi sebagian penonton Indonesia.

“Yang penting kita tahu ada genre film heist berkaitan dengan pencurian dan aksi kelompok. Tapi kita enggak nge-labelin itulah karena menurut kita itu istilah yang masih sangat asing,” kata Ernest.

Ia menilai yang lebih penting adalah alasan sebuah cerita perlu dibuat.

“Yang terpenting adalah why-nya. Kenapa cerita ini harus diwujudkan,” ujarnya.

Melalui Operasi Pesta Copet, Imajinari, Angin Segar, dan Boss Creator mencoba menghadirkan film yang memadukan komedi, aksi, musik, persahabatan, serta konteks sosial dalam satu cerita.

Edy Khemod berharap keberanian dan kerja keras seluruh tim dapat sampai kepada penonton.

“Semoga segala niat baik kami, kerja keras kami, kenekatan kami, nguliknya kami untuk film ini bisa dirasakan sama teman-teman dan semua yang nontonnya nanti,” katanya.

Operasi Pesta Copet dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.

(Ryennaldy) 

Related Post