Harusnya Horror Justru Bikin Penonton Haru

inskanewstv

August 14, 2026

4
Min Read

On This Post

INSKANEWS, Jakarta, 14 Agustus 2026 — Film Harusnya Horror yang menjadi debut penyutradaraan Reza Oktovian menghadirkan kejutan dalam gala premiere di Studio 1 Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis (13/8/2026). Film yang semestinya menawarkan horor dan komedi itu justru membuat sejumlah penonton terharu hingga menangis.

Momen emosional tersebut semakin kuat karena film ini turut menjadi bagian dari legacy mendiang Lula Lahfah, yang memerankan Gea. Reza menegaskan dirinya tetap ingin merayakan kehadiran Lula melalui film yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.

Reza mengungkapkan, ketika pemutaran awal film, ia sengaja menyediakan satu tempat khusus untuk mengenang Lula. Keputusan tersebut sempat mendapat kritik, tetapi Reza menegaskan tidak mempermasalahkannya.

“Waktu itu sempat waktu di Harusnya nonton duluan itu sempat aku ngasih satu spot gitu khusus gitu untuk almarhumah beliau dan itu sempat bukan diejek tapi dihujat gitu. And I swear to God saya tidak peduli saya akan tetap merayakan Lula karena ini legacy dia juga di film ini,” ujar Reza.

Bagi Reza, kehadiran Lula bukan sekadar bagian dari daftar pemain. Sosoknya menjadi bagian dari perjalanan dan kenangan yang melekat dalam proses pembuatan Harusnya Horror.

Horor yang Berujung Haru

Film Harusnya Horror mengisahkan Mas, seorang pria yang meninggal secara mendadak dan menjadi hantu. Namun, Mas bukan sosok menyeramkan. Ia justru seorang wibu yang minder dan takut kepada manusia.

Mas mendapat tugas dari akhirat untuk menakut-nakuti 100 ribu manusia dalam waktu 30 hari. Dalam menjalankan misi tersebut, ia bertemu sekelompok kreator konten horor gadungan yang sedang mengalami krisis finansial.

Mereka kemudian menjadikan Mas sebagai “talent” konten horor. Konten tersebut sukses dan viral, tetapi hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan yang lebih dalam.

Premis komedi fantasi tersebut ternyata menghasilkan respons emosional ketika ditonton bersama. Sejumlah penonton justru menangis setelah film berakhir.

Reza mengaku sejak awal menyadari bahwa setiap penonton dapat membawa pulang perasaan berbeda setelah menyaksikan film tersebut.

“Kalau misalnya kalau nonton film ini tuh misalnya lima orang itu pasti akan pas keluar akan merasakan feelings yang berbeda-beda,” ujarnya.

Menurut Reza, reaksi penonton dalam gala premiere membuktikan bahwa pesan emosional film tersebut tersampaikan.

“Seperti yang sudah kalian nonton pasti setiap orang pasti punya dan merasakan hal yang berbeda-beda juga,” katanya.

Executive Producer David Suwarto juga mengaku terkesan melihat reaksi penonton. Ia menyebut film tersebut terasa penuh hati sejak pertama kali ditonton oleh para pembuatnya.

“Saya senang banget dengan semua reaksi dan ketawa-ketawanya dan diemnya di akhir. Dari awal kita membuat film ini juga deketan bikinnya dan ketika kita nonton filmnya pertama kali rasanya kok penuh dengan rasa, penuh dengan hati,” ujar David.

Ia berharap perasaan yang muncul dari proses pembuatan film juga dapat dirasakan penonton.

“Semoga rasa-rasa itu semua nyampe ke semua teman-teman yang ada di sini,” katanya.

Persahabatan dan Kenangan Lula

Pesan persahabatan menjadi salah satu kekuatan Harusnya Horror. Reza dan para pemain membangun kedekatan melalui workshop dan bootcamp sebelum menjalani proses syuting.

Teguh Prakoso alias Pepe menyebut film tersebut sebagai karya yang lahir dari hati para pemain.

“Film ini merupakan film dari hati kita bersembilan dan semoga bisa nyampe ke hati semua yang nonton,” ujarnya.

Sementara itu, Reina Fenska mengingatkan penonton untuk tidak menyia-nyiakan waktu bersama orang-orang terdekat.

“Apapun itu sama sahabat kalian, gimana pun juga jangan sia-siakan waktu kalian bersama mereka,” kata Reina.

Pesan tersebut menjadi semakin bermakna ketika dikaitkan dengan kehadiran Lula dalam film. Harusnya Horror kini bukan hanya sebuah karya hiburan, tetapi juga menjadi salah satu rekaman terakhir perjalanan Lula di layar.

Bagi Reza, itulah alasan pentingnya menjaga keberadaan Lula dalam film dan terus merayakan kontribusinya.

Film Harusnya Horror dibintangi Reza Oktovian sebagai Mas, mendiang Lula Lahfah sebagai Gea, Tierison sebagai Kevin, Garry Ang sebagai Kenzo, Yuka Theo sebagai Cipuy, serta sejumlah pemain lainnya.

Film yang disutradarai Reza Oktovian dengan skenario Rahabi Mandra dan Syahrun Ramadhan tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.

Film yang seharusnya membuat penonton takut itu justru meninggalkan rasa haru—dan bagi Reza, salah satu rasa paling penting yang tertinggal adalah kenangan serta legacy Lula Lahfah.

(Ryennaldy)

Related Post