Atiqah Hasiholan Pimpin Pasukan Janda, Belanda Siap Dihancurkan!

inskanewstv

September 30, 2026

4
Min Read

On This Post

INSKANEWS, Jakarta, 30 September 2026 – Siapa sangka, kehilangan suami justru menjadi awal lahirnya pasukan perempuan paling ditakuti di medan perang? Itulah gambaran perlawanan yang dihadirkan film Pasukan 1000 Janda, produksi Manara Films yang resmi merilis trailer dan poster terbarunya dalam acara di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Mengusung genre historical fantasy action, film garapan Archie Hekagery ini mengangkat kisah heroik Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee dari Aceh. Bukan sekadar drama sejarah, film ini menjanjikan pertempuran kolosal yang mempertemukan keberanian para perempuan dengan kekuatan armada perang Belanda.

Dijadwalkan menghiasi layar bioskop Indonesia mulai 12 November 2026, Pasukan 1000 Janda menyuguhkan aksi perempuan bersenjatakan rencong dan menguasai ilmu bela diri saat menghadapi kapal-kapal perang Belanda yang dilengkapi meriam.

Trailer terbarunya memperlihatkan ketegangan pertempuran di tengah lautan, duel pedang, hingga peperangan di atas kapal. Lanskap Aceh pada masa lampau menjadi latar kisah yang memadukan sejarah, fantasi, dan aksi dalam skala sinematik.

Sutradara Archie Hekagery ingin membuktikan bahwa sejarah Indonesia memiliki cerita yang tak kalah besar untuk diangkat menjadi film laga.

“Lewat film Pasukan 1000 Janda, saya ingin membuat penonton merasakan bagaimana kalau kisah Laksamana Malahayati hadir sebagai sebuah action movie yang epik dan sinematik. Sejarah Indonesia memiliki cerita sebesar film action,” ujar Archie.

Atiqah Hasiholan Jadi Laksamana Perkasa

Salah satu daya tarik film ini adalah penampilan Atiqah Hasiholan sebagai Laksamana Malahayati, sosok pemimpin perempuan yang berani mengambil keputusan sekaligus menghadapi kehilangan dalam hidupnya.

Atiqah tidak hanya dituntut menghadirkan figur pejuang tangguh, tetapi juga menggambarkan sisi kemanusiaan seorang perempuan yang menjalani peran sebagai laksamana, ibu, dan istri.

Menurut Atiqah, perjuangan Malahayati dan Inong Balee tidak kehilangan relevansinya meskipun telah berlalu ratusan tahun. Keberanian perempuan untuk memimpin dan menentukan nasib sendiri masih menjadi bagian penting dari kehidupan masa kini.

“400 tahun berlalu. Perempuan tetap punya alasan untuk berdiri dan memimpin. Malahayati adalah seorang laksamana, warrior, namun juga seorang perempuan, ibu, dan istri. Kompleksitas itulah yang membuat sosoknya menarik untuk dibawa ke layar lebar, dan perannya sebagai perempuan yang serba bisa melakukan apa pun serta berjuang meski harus mengalami rasa kehilangan itulah yang juga tetap relevan dengan para perempuan sekarang,” ungkap Atiqah.

Kehadiran Atiqah diperkuat oleh sejumlah aktris, di antaranya Cut Mini, Tasha Siahaan, Fergie Brittany, dan Ully Triani yang memerankan anggota pasukan Inong Balee.

Sementara itu, jajaran pemain lainnya meliputi Emil Kusumo, Vincent Verhaag, Hans de Kraker, Dafina Jamasir, Syaura Salsabila, Muzakki Ramdhan, serta Ron Smoorenburg, aktor laga asal Belanda yang pernah berhadapan dengan Jackie Chan dalam film Who Am I?.

Dari Duka, Lahir Pasukan Perempuan

Bagi Tasha Siahaan, yang memerankan Dahlia, keterlibatannya dalam film ini menjadi pengalaman tersendiri. Ia harus mempelajari dialek Aceh, menjalani latihan koreografi laga, hingga mendalami sejarah perjuangan perempuan.

Tasha menilai semangat Inong Balee bukan semata-mata tentang peperangan, melainkan juga keberanian perempuan mempertahankan tanah kelahiran ketika berada dalam ancaman.

“Bagiku film Pasukan 1000 Janda sangat relevan dengan kondisi saat ini. Sampai sekarang kita masih sering melihat banyak kelompok perempuan yang berani bersuara dan melawan saat tanah kelahiran dan tanah tinggalnya terancam. Semangat juang para perempuan ini yang akan menghidupkan dan memberikan nilai lebih dari kisah historical fantasy action di layar lebar,” tutur Tasha.

Cerita film ini mengambil latar Selat Malaka pada 1599. Setelah berhasil menghadapi ancaman Portugis, Laksamana Malahayati dikisahkan menghilang tanpa jejak. Ketika armada Belanda kembali mengancam Aceh, tidak ada yang mengetahui siapa yang akan memimpin perlawanan berikutnya.

Di bawah komando Cornelis, armada Belanda datang untuk merebut jalur perdagangan strategis Nusantara. Teror melanda desa-desa, rakyat diburu, dan banyak lelaki gugur di medan perang.

Di tengah kehancuran tersebut, perempuan-perempuan yang kehilangan suami dan keluarga menolak menyerah. Mereka membentuk pasukan yang belum pernah ada sebelumnya, bersatu untuk mempertahankan rumah dan tanah yang mereka cintai.

Namun, ketika sejarah seolah mencatat Malahayati telah menghilang, tersimpan sebuah kemungkinan yang menjadi salah satu daya tarik utama cerita: sang laksamana mungkin tidak pernah benar-benar pergi.

Perlawanan yang Melampaui Sejarah

Diproduseri Yuda Wirafianto, dengan Mifta Nur Rizki sebagai ko-produser dan Bunga Mentari sebagai produser eksekutif, Pasukan 1000 Janda menghadirkan interpretasi sinematik terhadap kisah perjuangan perempuan Aceh melalui perpaduan sejarah, fantasi, dan aksi.

Lewat trailer dan poster yang telah diperkenalkan, film ini membawa satu pesan utama: kehilangan tidak selalu berakhir dengan keputusasaan. Dalam kisah Malahayati dan Inong Balee, duka justru menjadi titik awal keberanian untuk melawan.

Pasukan 1000 Janda akan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 12 November 2026. Informasi terbaru dapat diikuti melalui akun Instagram @pasukan1000janda dan @manara.studios.

—

Ryennaldy Zulkarnain

Related Post