INSKANEWS, Jakarta, 21 September 2026 — Film Memburu Pemangsa tidak sekadar menawarkan teror melalui perpaduan horror-crime-action. Di balik kisah empat jurnalis perempuan yang memburu predator anak, film produksi Sinemaku Pictures ini membawa persoalan kekerasan terhadap anak, budaya diam, hingga keberanian untuk bersuara.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan press screening dan press conference Memburu Pemangsa di Epicentrum XXI, Studio 2, Jakarta, Senin (21/9/2026). Film garapan produser sekaligus sutradara Umay Shahab itu dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 24 September 2026.
Film ini dibintangi Laura Basuki sebagai Agnes, Prilly Latuconsina sebagai Cia, Taskya Namya sebagai Brina, dan Yasamin Jasem sebagai Anya. Keempatnya merupakan jurnalis perempuan yang terlibat dalam investigasi kasus hilangnya anak-anak.
Dalam sinopsis resmi, empat anak menghilang dari sebuah kawasan dan kemudian ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Situasi semakin genting ketika anak lain kembali menjadi sasaran. Agnes, pemimpin redaksi Daily Wave News, terseret ke dalam kasus setelah seorang anak diculik tepat di depan matanya.
Bersama Cia, Brina, Anya, dan polisi bernama Petra yang diperankan Andri Mashadi, Agnes menghadapi pilihan antara mundur demi keselamatan atau mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan anak-anak yang tidak mampu melindungi diri mereka sendiri.
Laura Basuki: Horor Harus Terasa Nyata
Laura Basuki mengungkapkan, sejak membaca skenario, terdapat dua sisi Agnes yang menjadi perhatian utamanya. Pertama, ketajaman insting Agnes sebagai jurnalis. Kedua, sisi emosionalnya sebagai seorang ibu yang baru kehilangan anak.
Karakter Agnes juga memiliki sixth sense yang muncul dalam situasi tertentu. Menurut Laura, tantangan utamanya bukan sekadar menampilkan adegan supranatural, tetapi menghadirkan rasa takut yang terasa nyata.
“Waktu pertama kali baca skenarionya, ada dua hal yang aku highlight dari Agnes ini: dari ketajaman insting dia sebagai jurnalis dan sisi emosional dia sebagai ibu yang baru saja kehilangan anaknya,” ujar Laura.
Ia mengaku banyak berdiskusi dengan Umay Shahab mengenai cara menampilkan adegan ketika Agnes mengalami kesurupan atau kemampuan sixth sense-nya muncul.
“Aku penginnya enggak cuma menampilkan sisi horor aja, tapi gimana caranya menampilkan kengerian yang riil, ancaman yang riil,” lanjutnya.
Laura juga mengapresiasi keberanian Umay dan Sinemaku Pictures mengangkat isu sosial tersebut melalui kemasan horror-crime-action. Menurutnya, perpaduan tersebut diharapkan memberikan pengalaman yang lebih immersive bagi penonton film Indonesia, khususnya pencinta horor.
Menariknya, Laura justru menjadi salah satu pemeran yang paling belakangan bergabung. Saat pemain lain telah mengikuti sejumlah workshop action, ia datang untuk melihat proses latihan tersebut.
“Waktu pertama kali baca skenario, hal yang aku cari adalah ada enggak sih Agnes adegan action? Oh, enggak ada. Huh, selamat!” kata Laura sambil bercanda.
Menurut Laura, chemistry dengan pemain lain justru terbentuk dengan cepat. Ia menyebut Taskya Namya sebagai salah satu sosok yang membantu mencairkan suasana di antara para pemain.
Prilly Latuconsina Soroti Budaya Diam
Sementara itu, Prilly Latuconsina menyoroti persoalan yang menurutnya tidak kalah penting dari kejahatan itu sendiri, yakni budaya diam ketika masyarakat berhadapan dengan kasus kekerasan seksual terhadap anak.
Prilly menilai pemberitaan mengenai isu tersebut sebenarnya sudah cukup banyak. Persoalannya adalah bagaimana masyarakat merespons informasi tersebut setelah pemberitaan menjadi perhatian publik.
“Kalau melihat isu ini, kekerasan seksual pada anak, bukan enggak ada media yang meliput. Informasinya sudah banyak, tapi kalau kita lihat lagi ada budaya diam,” ujar Prilly.
Menurut dia, persoalan tersebut dapat muncul di lingkungan keluarga maupun masyarakat ketika orang mengetahui sebuah kasus, tetapi tidak tahu harus melakukan apa.
“Jadi mungkin viral satu hari dua hari, tapi habis itu enggak ada penanganan yang tepat dan sebenarnya kita itu harus seperti apa sih sebagai orang dewasa,” katanya.
Prilly juga menilai isu kekerasan terhadap anak masih dianggap tabu sehingga sebagian orang cenderung menghindari pembicaraan yang dianggap tidak nyaman.
“Padahal harus ada aksi ketika kita membaca berita-berita yang menimpa anak kecil yang di mana mereka enggak punya kontrol diri untuk melindungi diri mereka sendiri,” lanjutnya.
Karena itu, ia berharap Memburu Pemangsa dapat menjadi medium untuk menyampaikan persoalan tersebut kepada penonton melalui pendekatan yang berbeda.
“Semoga film ini bisa menjadi medium untuk bisa menyebarkan informasinya ke target yang lebih tepat dengan cara juga yang lebih tepat,” ujar Prilly.
Adegan Aksi Jadi Tantangan Prilly
Selain membawa isu sosial, Memburu Pemangsa juga menuntut para pemain menjalani adegan fisik. Prilly mengaku harus menjalani latihan fisik dan conditioning untuk mempersiapkan diri memerankan Cia.
Tantangan terbesarnya bukan hanya mengingat koreografi, tetapi mempertahankan emosi karakter di tengah adegan fisik.
“Benar-benar harus bisa gimana caranya ingat adegan fisiknya, ingat gerakannya, tapi jangan lupain emosinya,” kata Prilly.
Cia sendiri memiliki latar belakang yang membuat persoalan anak menjadi sangat personal. Ia menjaga keponakannya, Pandu, dan memiliki kekhawatiran besar terhadap keselamatan sang keponakan.
Karena itu, rasa takut kehilangan atau sesuatu terjadi kepada Pandu menjadi bahan bakar emosional Cia ketika berhadapan dengan predator.
“Lebih susah itu menjaga continuity emosi di tengah-tengah adegan fisik yang lumayan berat,” ujar Prilly.
Taskya: Brina Tidak Ditemukan Sendirian
Taskya Namya yang memerankan Brina mengaku emosional setiap kali membicarakan film tersebut. Ia mengatakan karakter Brina memiliki kedekatan tertentu dengan dirinya, terutama dalam hal naluri melindungi keluarga.
Taskya bahkan sempat menangis ketika berbicara mengenai pesan film dan penghormatannya kepada para jurnalis.
“Saya bisa lihat gambaran saya ternyata ketika tadi mendengarkan Prilly ngomong tentang gambaran Chia, Chia adalah Taskya Namya di kehidupan nyata untuk melindungi keponakanku,” tuturnya.
Taskya juga memberikan penghormatan kepada para jurnalis yang hadir dalam acara tersebut.
“Saya sangat menghormati pekerjaan teman-teman yang ada di sini. Karena kalian kalau enggak ada kalian kita tidak pernah tahu informasi. Kalian selalu menjadi garda terdepan untuk mencari informasi dan memberikan fakta untuk kita semua,” katanya.
Menurut Taskya, proses membangun karakter Brina juga tidak dilakukan sendirian. Ia merasa karakter tersebut terbentuk melalui interaksi dengan para pemain lain.
“Saya tidak menemukan seorang Brina sendirian, tapi saya menemukannya bersama-sama,” ujar Taskya.
Ia melihat adanya kedekatan antara karakter Brina dan Cia, terutama dalam hal emosi yang sama-sama kuat, meski cara keduanya mengekspresikannya berbeda.
“Chia lewat mulut, aku lewat tampolannya,” kata Taskya disambut tawa.
Yasamin Riset Jurnalis dan Demonologi
Yasamin Jasem memerankan Anya, seorang jurnalis yang memiliki minat terhadap demonologi. Ia mengaku memiliki kedekatan dengan karakter tersebut karena ketertarikannya terhadap dokumenter kriminal dan cerita yang berkaitan dengan cult.
Untuk mendapatkan gambaran mengenai profesi jurnalis, para pemain diberi kesempatan bertemu dengan sejumlah media dan jurnalis.
Menurut Yasamin, proses tersebut penting agar profesi yang dimainkan dalam film tidak sekadar terasa sebagai atribut karakter.
“Sinemaku memberikan kami waktu untuk bertemu dengan media, dengan jurnalis, jadi kita banyak tanya seputar yang ada di dalam skrip ini bagaimana sebenarnya yang terjadi di lapangan dan gimana caranya kita bisa membawa apa yang sebenarnya terjadi itu ke dalam screen, supaya enggak terkesan pura-pura,” jelas Yasamin.
Para pemain juga bertemu dengan Komnas Perlindungan Anak. Yasamin menyebut pertemuan tersebut menjadi salah satu pemantik semangat bagi pemain dan kru untuk menyuarakan isu yang diangkat film.
Menariknya, Yasamin melihat setiap karakter memiliki alasan masing-masing untuk terlibat dalam upaya menyelamatkan anak-anak.
Agnes memiliki pengalaman kehilangan anak, Cia menjaga keponakannya, sementara Brina juga memiliki hubungan keluarga yang berkaitan dengan kasus tersebut.
“Semua karakternya punya goals-nya masing-masing, tapi intinya satu: kita mau menjaga anak-anak,” ujar Yasamin.
Umay Pastikan Isu Anak Didampingi
Umay Shahab menjelaskan bahwa persoalan anak menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus selama proses produksi.
Ia mengatakan tim produksi berdiskusi dengan Komnas Perlindungan Anak mengenai isu yang berkaitan dengan anak, termasuk ketika melibatkan pemeran anak.
Menurut Umay, orang tua pemeran anak terlebih dahulu mendapatkan penjelasan mengenai materi dan batasan yang perlu diperhatikan. Tim produksi juga menyampaikan informasi tersebut kepada para pemeran anak dengan batasan tertentu berdasarkan pendampingan psikolog yang didelegasikan Komnas Perlindungan Anak.
“Untuk semua hal, dialog, dan lain-lainnya pasti seperti yang tadi sudah aku sampaikan, itu sudah melalui approval dari Komnas juga, sudah melalui approval dari psikolog juga,” ujar Umay.
Ia menegaskan bahwa tim tidak ingin mengambil keputusan sendiri untuk hal-hal yang dianggap sensitif.
“Untuk semua hal-hal yang sifatnya agak abu-abu, kita enggak mau memutuskan sendiri. Jadi semuanya sudah di-screening dari tahap skenario sampai tahap pascaproduksi,” katanya.
Pernyataan tersebut melengkapi keterangan dalam press release yang menyebut para pemeran melakukan pertemuan dengan Komnas Perlindungan Anak sebagai bagian dari proses pendalaman isu.
Teuku Rifnu Wikana Jalani Syuting Terberat
Teuku Rifnu Wikana, yang memerankan karakter antagonis, menyebut Memburu Pemangsa sebagai salah satu, bahkan menurutnya, syuting terberat sepanjang kariernya.
Ia mengatakan tuntutan fisik selama produksi membuatnya beberapa kali mengalami cedera.
“Ini adalah syuting terberat seumur sepanjang saya berkarier di dalam film,” ujar Rifnu.
Ia mengungkapkan sejumlah pengalaman cedera selama proses syuting, termasuk kepala yang terkena benturan dan pemeriksaan medis pada bagian kaki.
Rifnu juga menilai Umay memiliki visi yang sangat spesifik terhadap karakter dan adegan yang ingin dibangun. Bahkan, menurutnya, pilihan terhadap detail kecil seperti cara tertawa pun diperhatikan dalam proses penyutradaraan.
Ketika ditanya mengenai karakter iblis yang dimainkannya, Rifnu justru mengarahkan pembicaraan pada gagasan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk melakukan kejahatan yang lebih jauh.
“Manusia yang benar-benar mengendalikan dan menghancurkan kita,” ujarnya.
Gagasan tersebut sejalan dengan konsep film yang menempatkan manusia sebagai sumber ancaman utama. Dalam keterangan resmi film, musuh utama bukan semata-mata hantu atau iblis, melainkan manusia keji yang bekerja sama dengan iblis.
Umay Ungkap Makna Warna Hijau
Dalam sesi lain, Umay juga menjelaskan elemen visual yang digunakan dalam film, termasuk warna hijau.
Menurutnya, warna hijau digunakan untuk menggambarkan karakter pemangsa yang dianggap mampu “menyebarkan racun”. Warna tersebut juga berkaitan dengan pengalaman personal Umay pada masa kecil yang kemudian memengaruhi opening image film.
Umay mengaitkan visual kursi goyang dalam pembukaan film dengan sebuah video yang pernah ia lihat ketika kecil. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari trauma masa kecil yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa visual film.
Dengan demikian, Memburu Pemangsa tidak hanya mengandalkan kejutan horor. Film tersebut mencoba mempertemukan investigasi jurnalistik, adegan aksi, teror supernatural, serta isu kekerasan terhadap anak dalam satu cerita.
Sinemaku Pictures sebelumnya menyebut film ini sebagai karya Umay Shahab dengan peningkatan skala produksi dan pendekatan sinematik yang berbeda dari karya-karyanya sebelumnya.
Memburu Pemangsa dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026. Tiket penayangan hari pertama telah tersedia melalui M-TIX, CGV, Cinepolis, dan TIX ID, serta sejumlah jaringan bioskop lainnya.
—
Ryennaldy







